Oleh :
Ananta Wahana, SH.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Banten

Beberapa minggu yang lalu, sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Banten kami bersilaturahmi dengan kyai-kyai dari Pondok Pesantren Salafiyah. Diskusi yang menarik tapi mengundang keprihatinan tersebut, ternyata belum selesai atau setidaknya belum mengundang ketertarikan dari pihak yang mestinya “bertanggung jawab”, maka kami memandang perlu melontarkan pemikiran ulang dari diskusi tersebut.

Pondok Pesantren merupakan Lembaga Pendidikan Khas Indonesia, tidak terkecuali Banten. Jika India memiliki Gurukula atau Pakistan dan Bangladesh mempunyai Madrasah. Sejarah dan masyarakat Banten punya Pesantren. Karena cita rasa Indonesia, maka pesantren menjadi sebuah lembaga pendidikan yang memiliki keterikatan dan keterkaitan historis dengan sejarah perkembangan Islam di Banten Indonesia sejak babad kehidupan para wali sango hingga saat ini, tatkala persada nusantara Indonesia memasuki abad baru, milenium baru dalam tatanan peradaban sains dan teknologi.

Pondok Pesantren adalah saksi dan pelaku sejarah bagi perjuangan serta jatuh-bangunnya persada bumi nusantara demi mengukuhkan eksistensi kenegaraan dan kebangsaannya. Sejak awal penerimaan Islam di Indonesia, pesantren didirikan sebagai pusat informasi keislaman bagi penduduk pribumi dan sekaligus juga tempat bermusyawarah bagi masyarakat lokal demi mencari solusi terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan.
Namun ironinya, dengan sumbangsih yang sedemikian besar, pesantren, khususnya salafiyah, nampaknya belum mendapat perhatian secara serius dan aktif dari pemerintah. dalam hal ini adalah Pemkot, Pemkab maupun Pemprov Banten. Padahal, dalam motto dan lambang Provinsi Banten sangat jelas tergambar dan tertulis IMAN DAN TAQWA dengan latar belakang menara dan kaibon. Hal itu menunjukkan karakteristik sosial budaya religius.
Keberadaan Pesantren di Banten dari zaman Babad hingga sekarang telah banyak melahirkan para intelektual lokal dan memberi peran aktif dalam perkembangan dan pengembangan Banten sebagai provinsi. Maka menjadi tidak wajar jika keberadaan pesantren salafiyah tidak tersentuh secara pasti dan konkrit oleh APBN atau APBD. Sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab negara atau pemerintah daerah.

Padahal, sebagai lembaga pendidikan (bukan agama) keberadaan pesantren (dalam hal ini salafiyah) terjamin akan tanggung jawab pemerintah dan tidak dapat dikotomi dengan lembaga pendidikan yang lain. Kita dapat merujuk dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas : Bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan nasional. Dan juga UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengamanatkan kepada daerah dalam upaya melaksanakan otonomi daerah untuk mendorong pemberdayaan, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas masyarakat demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara merata tanpa diskriminasi.

Pada faktanya, disaat seluruh lembaga pendidikan mendapatkan alokasi dana yang jelas dan sistematis dari APBN atau APBD untuk pengembangan dan pemberdayaan. Pesantren Salafiyah hanya mendapat bantuan yang secara ekstrimnya berdasarkan “kasihan”. Bukan karena faktor komitmen memajukan keberadaan pesantren salafiyah secara sistematis. Atau menunggu pengelola pesantren mengajukan bantuan dan itupun sifatnya tidak menentu.

Inilah yang seharusnya menjadi ironi masyarakat Banten terhadap pesantren salafiyah. Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang bagi terbentuknya Republik dan Provinsi Banten, seharusnya pesantren salafiyah mendapatkan perhatian sebagaimana yang diperoleh oleh lembaga pendidikan pada umumnya. Demi berlanjutnya proses belajar mengajar dan pengembangan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Dan sungguh sangat disayangkan, jika lembaga yang banyak melahirkan para intelektual muslim dengan kepribadian Indonesia harus tertatih-tatih dalam upaya mempertahankan eksistensinya seperti mengkaji kitab-kitab klasik warisan para ulama dan menghafal al-Qur’an. Dan sudah seharusnya bagi pemerintah daerah untuk memberikan perhatian kepada pesantren salafiyah secara sistematis. Bukan kahayang sorangan (semaunya sendiri).

Sejauh ini, banyak pandangan yang keliru menilai tentang keberadaan pesantren salafiyah sebagai salah satu lembaga pendidikan. Pertama, Pesantren Salafiyah dipahami sebagai lembaga keagamaan. Pandangan dan penilaian ini tentu sangat tidak tepat. Jika pesantren salafiyah hanya memfokuskan pada kajian intelektual keagamaan Islam, tidak berarti dapat disamakan dengan lembaga keagamaan. Karena didalam pengembangannya berpegang pada suatu kurikulum yang selayaknya terdapat disuatu lembaga pendidikan. Bukan semata indoktrinasi melainkan semangat keilmuawan yang selalu diprioritaskan.

Kedua, mempertahankan kurikulum pendidikan salafi yang dipahami sebagai anti modernisme. Padahal, dengan tetap mempertahankan kurikulum pendidikan salafi, kalangan pesantren salafiyah tidak juga menafikan atau menolak secara mutlak semangat modernisme. Seperti pengembangan metode dan perbaikan sistem pendidikan dan membekali para santri suatu ketrampilan khusus (sesuai kebutuhan perkembangan zaman) dan cara pandang yang dinamis. Serta semangat nasionalisme dan kebangsaan. Yang dilakukan pesantren salafiyah hanya tetap mempertahankan kajian-kajian ilmu keagamaan saja. Tepatnya, menjadikan pengembangan ilmu keagamaan sebagai program unggulan. Dengan alasan tersebut, kalangan pesantren salafiyah tidak lagi membebani kajian keilmuwan lain terhadap para santri. Sebagai upaya penguasaan secara komprehenshif dan memadai bagi salah satu disiplin keilmuwan.

Ketiga, stigma inklusivitas bagi kalangan santri. Banyak kalangan masyarakat keliru menilai, dengan tradisi yang dikembangkan dan dilakoni para santri. Dengan gaya hidup yang tetap mengusung kesederhanaan dan tradisionalis, cenderung dipahami keliru. Karakter pesantren salafiyah bukanlah pada sisi luar atau “bungkus”. Hal ini ditengarai dengan keterbukaan pesantren salafiyah terhadap masyarakat sekitar pesantren dan keterbukaan mereka dalam menerima perbedaan dengan mengedepankan dialog. Bahkan dengan kalangan yang berbeda keyakinan sekalipun.

Dengan ulasan tersebut dapat disimpulkan, banwa pesantren salafiyah seharusnya dipahami sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ada dan dimiliki oleh bangsa Indonesia, khususnya Banten. Yang sampai saat ini tidak banyak tersentuh dalam program prioritas pembangunan pemerintah daerah Provinsi Banten.

Hal tersebut sangat beralasan, karena upaya pemerintah daerah hanya menempatkan dan menganggarkan dana pengembangan pada bantuan sosial. Yang sifatnya hanya pemberian cuma-cuma atau dalam bahasa agamanya adalah shodaqoh yang hukumnya sunnah, bukan wajib. Tentu hal ini memiliki implikasi pada penerapan anggaran dan program.
Ada dua hal yang harus menjadi perhatian bagi pengembangan pesantren salafiyah di Banten. Pertama, sejarah eksistensi Provinsi Banten yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren salafiyah. Bahkan, pesantren salafiyah menjadi salah satu icon bagi Banten. Sehingga sebagai salah satu warisan pendidikan dan kebudayaan masyarakat Banten ini harus dijaga eksistensi dan pengembangannya.

Kedua, Pesantren Salafiyah sebagai pusat pengembangan ilmu ke-Islaman yang berkarakter ke-Indonesiaan. Hal ini sangat penting bagi tatanan kebangsaan dimasa mendatang bagi Provinsi Banten dalam kerangka negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) yang multi kultural etnis, dan agama.

Ketiga, Pesantren Salafiyah sebagai salah satu lembaga pendidikan dengan program unggulan ilmu keagamaan Islam. Dengan demikian, sudah seharusnya pemerintah memberikan ruang atau menyediakan fasilitas bagi keinginan masyarakatnya yang berkeinginan memperdalam keilmuwan agamanya.

Keempat, Pesantren Salafiyah dapat menjadi pendidikan alternatif yang terjangkau oleh masyarakat kurang mampu. Dengan tidak memprioritaskan biaya tinggi dan mahal, salafiyah dapat menjadi wadah pendidikan yang turut mencerdaskan bangsa dan masyarakat kurang mampu secara finansial. Sehingga dapat membantu dan menjadi partner pemerintah dalam upaya peningkatan kecerdasan masyarakat.

Saat ini, yang dibutuhkan pesantren salafiyah bukan lagi belas kasih pemerintah daerah dalam bentuk bantuan sosial. Dan dengan semakin terbukanya arus informasi dan kecerdasan masayarakat salafiyah, sudah sewajarnya mereka menuntut hak yang mestinya mereka dapatkan dalam bentuk anggaran tetap. Sebagaimana yang didapati oleh lembaga pendidikan lainnya. Hal ini juga dalam upaya mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dan dengan jumlah yang sangat signifikan, seyogyanya Pemda Provinsi Banten harus memikirkan dan menjadikannya salah satu program prioritas bagi pengembangan pesantren salafiyah di Banten. Data statistik yang dimiliki Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten mencatat bahwa keberadaan pesantren salafiyah disetiap kota dan kabupaten berjumlah lebih dari angka seratus. Untuk itu, sebagai salah satu warisan sejarah Banten dan lembaga pengembangan pendidikan agama Islam ini harus mendapatkan perhatian secara khusus.
Karena pada prinsipnya, pesantren salafiyah bukan pengharap sumbangan dari pemerintah daerah. Tetapi tanggung jawab negara yang memang harus memperhatikan keberadaan dan kelanjutan pesantren salafiyah sebagaimana terhadap lembaga pendidikan pada umumnya. SEMOGA !!!!! (12 Peb 2011)

Iklan

9 respons untuk ‘PESANTREN SALAFIYAH JUGA LEMBAGA PENDIDIKAN

  1. Hello thеre! Ƭhis post couldn’t bе written mucһ Ƅetter!
    Reading througһ thіs article reminds mе off my previoսs roommate!

    He always kept preaching about this. Ӏ ɑm ɡoing tօ
    send this article to him. Pretty ѕure he ᴡill hɑᴠe а good reaⅾ.
    Thank you for sharing!

    Suka

  2. First of all I want to say wonderful blog! I had a quick
    question in which I’d like to ask if you do not mind. I was curious to know how you center yourself and clear
    your head before writing. I’ve had a tough time
    clearing my thoughts in getting my thoughts out. I do enjoy writing however it just seems like the first
    10 to 15 minutes are generally lost just trying to figure out how to begin. Any suggestions
    or hints? Kudos!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.