PANCASILA ADALAH WELTANSCHUUNG BANGSA INDONESIA


Tanggapan atas tulisan H. Taufiqurokhman, S.Sos.,Msi :
”Pancasila Masih Sakti” pada 4 Oktober 2010 di Kabar Banten

Oleh : Ananta Wahana

Pancasila

Pancasila

Judul di atas untuk mengingatkan peristiwa ”otentik” para pendiri bangsa ini ketika mempersiapkan Indonesia Merdeka. Dalam bukunya ”Pancasila Bung Karno”, Himpunan Pidato, Ceramah, Kursus dan Kuliah yang diterbitkan oleh Paksi Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, 2005, dalam pengantarnya ditulis ”menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan Rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari 29 Mei s/d 1 Juni 1945, dengan acara tunggal menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI, dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat yaitu ”Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa ?”. Pada 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesuia Merdeka, yang dinamakanya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai. Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun UUD dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu”.

Dalam mengawali pidatonya, Bung Karno mengatakan ”sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya……..Maaf, beribu maaf ! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka”. Perlu juga diketahui bahwa Pancasila sudah diwacanakan oleh Soekarno sejak 1926 ketika memformulasikan paham Marhaenisme.

Konteks sejarah di atas menjelaskan dan merekontruksikan pancasila lahir sebagai bagian dari revolusi Indonesia dan kristalisasi budaya yang berurat berakar pada nilai-nilai dasar masyarakat Indonesia. Tidak sesederhana yang disangka. Tulisan saudara taufiqurokhman pada harian Kabar Banten, 4 Oktober 2010 lalu juga ”menggelikan” karena menempatkan implementasi dasar Pancasila pada bangunan argumentasi yang rapuh dan bersifat klenik (sakti). Ditambah ketidakmampuan dalam tulisan tersebut membangun daya kritis terhadap pelaksanaan Pancasila pada masa Orde Baru. Sehingga membuat kesan orientasi hendak mengulang kesalahan yang sama.

Paparan sekelumit sejarah diatas juga bermaksud untuk menunjuk tidak tuntasnya pemikiran dan argumentasi yang hendak disampaikan dalam tulisan H.Taufiqurokhman tentang perdebatan (?) Pancasila antara Muhamad Yamin dan Ir. Soekarno, mempersoalkan filosofi Negara yang akan dibentuk (paragrap tiga). Dengan kata lain referensi sejarah di atas mudah-mudahan dapat menjadi masukan berarti buat saudara Taufiqurokhman.

Pada masa Orde Baru Pancasila justru mengalami banyak pendangkalan makna dan pengkerdilan implementasinya. Mulai dari formalisasi P4 dan pembutiran Pancasila, namun steril dari kesungguhan menjadikan Pancasila sebagai tatanan nilai bernegara. Ada dua kesalahan fatal Orde Baru dalam kerangka menegakkan Pancasila (disengaja?). Pertama, memberangus fondasi nalar dan logis ideologi Pancasila pada kemampuan sistem nilainya menjadi idelogi penguasa yang tidak boleh salah dalam versi kekuasaan dibungkus dengan mistifikasi yang menyesatkan.

Lihat saja pembelokan sejarah kelahiran Pancasila oleh Orde Baru demi kepentingan kekuasaan yang mengabaikan otentifikasi refleksi dan referensi sejarah. Disebutkan Pancasila lahir 1 Oktober karena berhasil mengalahkan G30S PKI. Padahal pemberontkan PKI justru dilakukan pada tanggal 1 Oktober. Benar-benar keblinger. Kedua, Pancasila pada masa Orde Baru justru dijerumuskan pada wilayah ”abu-abu”. Orde Baru tidak bisa dan tidak boleh dikritik, kendati perjalanan kekuasaannya jahat dan menindas rakyatnya dengan dan atas nama Pancasila.

Tantangan terbesar Pancasila pada masa kini adalah mengembalikannya menjadi satu-satunya sistem nilai yang membimbing kehidupan berbangsa dan bernegara hingga pada tingkat implementasinya. Bahkan kalau bisa dijadikan dasar berbagai perda-perda yang ada sehingga akan terlihat perlawanan terhadap cita-cita dasarnya terhadap Imprealisme modern dan neoliberalisme.

Mengembalikan kehidupan Pancasila seperti pada masa Orde Baru sungguh suatu cara fikir yang fatalistik dan kembali membahayakan substansi nilai-nilai luhur Pancasila itu sendiri.

*Artikel dikutip dari padepokankebangsaankarangtumaritis.info

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.