oleh
Ananta Wahana, SH.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Banten
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Banten

Maju terus, jangan mundur, mundur hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai point of no return (Bung Karno).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, reses artinya perhentian sidang (parlemen); masa istirahat dari kegiatan bersidang. Lalu Ensiklopedi Nasional Indonesia menjelaskan, reses, menurut pengertian aslinya adalah masa istirahat atau penghentian suatu sidang pengadilan atau sidang lembaga perwakilan rakyat dan badan sejenisnya. Meski reses itu masa istirahat, para anggota DPRD tetap melaksanakan tugas tugasnya sebagai wakil rakyat diluar kantor.

Secara sosiologis, masa reses seringkali dimaknai sebagai upaya penguatan proses demokratisasi dari bawah, dimana anggota dewan diminta merekam ulang serta mengevaluasi tanggungjawab pemerintah terhadap persoalan dan kepentingan masyarakat di tingkat bawah. Dalam prakteknya, bisa saja melakukan assessment kepada kepengurusan partainya di tingkat bawah maupun konstituennya. Keduanya menjadi sampel dalam populasi politik yang dibutuhkan metodologi reses. Sayangnya, proses ini seringkali steril dari nafas ideologis. Kecuali sebagai agenda rutin formalistik yang hanya memiliki dampak administratif dan materialistik. Tidak lebih. Sikap ini semakin kentara jika kemudian secara kasat mata anggota dewan menjadikan masa reses menjadi mekanika mutualisme simbiosis terhadap orang-orang yang mempunyai peran terhadap keberadaannya menjadi anggota dewan.

Untuk menyelami substansi reses, ada baiknya saya turut mengutip perkataan sebagai berikut : ”……kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat dan martabat wong cilik adalah lebih utama dari bagi-bagi kekuasaan. Untuk itu kita tak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai ideologis. (Pidato Ketua Umum Hj. Megawati Soekarno Putri dalam Kongres III PDI Perjuangan, Sanur Bali 6-9 April 2010).
Sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat.

Cuplikan pidato di atas merupakan pesan yang mendalam, bahwa rakyat harus dijadikan sebagi sumber inspirasi setiap langkah dan kebijakan petugas partai di legislatif maupun di lembaga apa saja. PDI Perjuangan melalui Ketua Umumnya mengajarkan secara progressif revolusioner menolak tindakan-tindakan politik pragmatisme dan transaksional.

Berkaitan dengan kegiatan Reses DPRD Provinsi Banten yang dilaksanakan dari 16–23 September 2010, sebagai kader kepanjangan partai tentunya ini harus dimaknai sebagai tugas wakil rakyat yang berdemensi jalan ideologis.
Jalan ideologis adalah sebuah pilihan sadar berpolitik yang berangkat dari pidato Ibu Megawati Soekarno Putri yang mengintruksikan kader Partai untuk kembali kejalan Ideologi. Dalam konteks Reses maka jalan idelogis adalah metodelogi penyerapan aspirasi rakyat yang dipraktekan dalam rumus 1 – 3 – 1.

Rumus ke-1 (Kesatu) : Ideologi Sebagai Panglima
Sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh jaman. Dan tanda-tanda jaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Oleh karenanya, reses juga mesti dimaknai sebagai penguatan ideologi rakyat.

Rumus ke 2 (Kedua) adalah tiga prinsip management pengorganisasian. Yang Pertama adalah Berpucuk : maksud dari prinsip ini adalah sebuah kemampuan pengorganisasian yang memiliki kemampuan leadership manajerial yang baik dan solid. Sehingga akan tampak satu dinamisasi dan gerak yang terkoordinir dalam satu komando serta memiliki visi dan misi kepemimpinan yang nyata dan dapat dirasakan teladannya. Yang kedua adalah Menganyam Kesamping : maksud dari prinsip ini adalah kemampuan manajerial yang felksibel namun memiliki jati diri yang baik dalam kerangka membangun jaringan organisasi disetiap levelitas masyarakat, baik dengan pemerintah, profesional sampai dengan praktisi. Yang ketiga adalah Mengakar Kebawah : maksud dari prinsip ini adalah menjadikan rakyat sebagai tujuan dan rujukan utama sebagai pemegang kedaulatan yang sebenarnya, sehingga kepentingan politik selalu berdiri di atas kepentigan rakyat.

Rumus ke 3 (Ketiga) adalah PRAKTEK TURUN KE BAWAH :
Dalil terakhir adalah 1 yaitu turun ke bawah. Rumusannya relatif sederhana. Ada 3 cara yang harus dilakukan oleh ”petugas” partai (anggota fraksi) dalam mengimplementasikan perintah turun ke bawah yaitu makan bersama rakyat, tidur bersama rakyat dan bekerja bersama rakyat.

Menyangkut implementasi dari dalil ideologi di atas, sebagai kader partai anggota fraksi (DPRD Provinsi Banten) yang mewakili konstituennya maka reses yang dilaksanakan setiap 4 bulan sekali dalam masa anggaran tiap tahunnya merupakan leading yang sangat efektif untuk secara cerdas termanfaatkan sebagai sarana turun ke bawah dengan makan bersama rakyat, tidur bersama rakyat dan bekerja bersama rakyat sehingga tidak ada kesenjangan antara kebutuhan rakyat dengan kebijakan yang dihasilkan eksekutif dan legislatif.

Dari hasil reses harus dicapai sebuah kemajuan-kemajuan secara normatif akan fungsi–fungsi anggota legislatif seperti fungsi pengawasan atas kebiajakan atau program pemerintah, apakah dapat berjalan efektif atau tidak, yang selanjutnya fungsi anggaran yaitu dari hasil serap aspirasi maka akan ditemukan dengan sebenar-benarnya apa yang sangat dibutuhkan masyarakat, dari hal tersebut maka akan menjadi jembatan atau sarana untuk mewujudkan pengelolaan atau pengalokasian anggaran di APBD yang berpihak kepada rakyat, ketika tidak adanya perubahan yang signifikan dari hasil reses maka jelas harus dipertanyakan mengenai manfaat dan pengelolaan reses tersebut.
Sebagai implementasi ideologi maka reses wajib dijalankan dengan baik dan serius, bukan hanya semata- mata ceremonial ataupun hanya pemenuhan pertanggungjawaban program kegiatan DPRD tetapi lebih jauh lagi bahwa reses mesti dimaknai sebagai mekanisme dan ruang memahami kemampuan ideologis mencerna kebutuhan masyarakat dalam semangat dan kebutuhan bersama; memacu “denyut” cita-cita kesejahteraan dalam gerak pemerintahan yang transparan dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sebagai penutup sangatlah bijak apabila kita mau merenungkan dan melaksanakan apa yang diharapkan oleh BUNG KARNO penyambung lidah rakyat Indonesia : ”KARMANE, FADIKARATSE MAPPALESSU; KADYATNA”, laksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya, serela-relanya, dan seikhlas-ikhlasnya. Sebab jika engkau tidak memetik buahnya maka anakmu yang akan memetiknya. Jika bukan anakmu yang memetik, PASTI cucumu yang akan memetik hasilnya !!!!!
Semoga itu menjadi semangat kita bersama dalam membangun BANTEN BERDASARKAN IMAN DAN TAQWA !!!!! (19 Sept 2010)

*Artikel disadur dari padepokankebangsaankarangtumaritis.info

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.