Mbakyu Rupiyah, Kilas Pandang Mata Uang Indonesia


Ilustrasi Mbakyu Rupiyah

Ilustrasi Mbakyu Rupiyah

Penguatan Mata Uang Rupiah (I)

Pinarak kisanak, ada ketela, singkong rebus dan bakar, juga ada ubi rebus dan bakar. Umang kemudian menolehkan wajahnya ke kedai, lalu duduk di balai kedai yang tersedia. Wajah Umang menerawang ke sekitar desa, mengawasi penduduk yang lalu lalang di desa Tumapel.

Waktu menjelang senja, Umang ditugaskan oleh Arok untuk mempelajari pengawalan prajurit Tumapel. Di kedai tersebut, Umang disinyalir melakukan sebuah operasi telik sandi yang merupakan salah satu operasi militer tertua yang dilakukan di tanah Nusantara.

Deskripsi diatas merupakan sebuah cuplikan peristiwa yang tercatat di roman novel sejarah yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer berjudul “Arok Dedes”. Sebuah cerita tentang pergolakan kekuasaan yang terjadi di Tumapel yang pada saat itu dikuasai oleh Tunggul Ametung. Dikisahkan sebuah peristiwa penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh seorang rakyat jelata terhadap seorang penguasa.

Berdasarkan riset pustaka PALAPA POS, ditelisik bahwa berdasarkan rentang waktu Umang melakukan telik sandi di kedai diperkirakan Umang mengkonsumsi palawija yang disediakan di kedai tersebut. Diketahui bahwa pemilik kedai tersebut bernama Mbakyu Rupiyah. Cuplikan peristiwa antara Mbakyu Rupiyah dan Umang bisa disebutkan merupakan salah satu transaksi perdagangan atau ekonomi tertua yang terjadi di Nusantara menggunakan satuan mata uang sebagai alat tukar.

Diketahui pula bahwa pola perilaku perdagangan dilakukan di wilayah Jawa Timur pada abad ke 12 hingga abad ke 13. Sistem keuangan menggunakan satuan “peser” sebagai nilai mata uang yang digunakan saat itu. Ditelisik dari transaksi ekonomi yang dilakukan Mbakyu Rupiyah dan Umang, diketahui bahwa Umang mengkonsumsi palawaija senilai satu hingga lima peser saat itu.

Satuan mata uang peser menggunakan perak sebagai nilai ekonomi di Nusantara, merupakan hal yang jamak digunakan sebagai alat tukar perdagangan di Nusantara. Dalam sejarah keuangan Indonesia terdapat beberapa satuan nilai uang, diantaranya Sen, Hepeng, Picis, Peser, Ketip, Benggol, Tali.

Sebagai sebuah alat tukar, mata uang di Nusantara menggunakan beragam satuan nilai mata uang, tergantung dari kebijakan kerajaan di daerah masing-masing di kala itu. Pertimbangannya pun beragam, diantaranya adalah kepada siapa kerajaan tersebut melakukan kerjasama perdagangan.

Sepanjang perjalanan kekuasaan kerajaan Kadiri yang meliputi Tumapel hingga berubah menjadi Singosari ketika Arok berhasil menggulingkan kerajaan, hampir bisa dipastikan bahwa penggunaan satuan mata uang ditentukan oleh Kepala Pelabuhan setempat yang disebut Syahbandar, menentukan jenis mata uang yang digunakan. Begitupula ketika terjadi perubahan kekuasaan menjadi Majapahit oleh Hayam Wuruk hingga perubahan kekuasaan kembali menjadi beberapa kerajaan seperti Mataram, Blambangan, Demak, Kediri dan beberapa kerajaan lainnya.

Ruang lingkup kegiatan ekonomi tersebut meliputi Kawasan Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Kepulauan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku serta Papua. Apabila ditelusuri kembali ke beberapa abad sebelumnya diketahui pula bahwa Kerajaan Sriwijaya pun memiliki kegiatan ekonomi yang hampir serupa dengan menggunakan satuan nilai mata uang seperti yang disebut sebelumnya. Hingga bisa dipastikan bahwa selain pertikaian dan pergolakan yang terjadi diberbagai peralihan kekuasaan kerajaan di Nusantara menyisipkan kegiatan ekonomi yang menggunakan satuan nilai mata uang serta distribusi logistik untuk persenjataan dan pangan.

Pola perekonomian dan perdagangan yang mengadopsi Mbakyu Rupiyah mencapai puncaknya ketika digunakan sebagai cara perlawananan terhadap penjajah Belanda yang diterapkan Samin Surosentiko untuk para pengikutnya. Diketahui pengikut Samin berjumlah sekitar 1.900 orang dan bagi para pengikutnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menggunakan cara berdagang Mbakyu Rupiyah. Sehingga monopoli perdagangan yang dilakukan oleh penjajah Belanda tidak berpengaruh kepada pengikut Samin.

Samin Surosentiko sendiri merupakan tokoh pergolakan yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda pada abad 19, namun menggunakan cara-cara yang unik, seperti pengabaian terhadap peraturan yang dibuat penjajah. Pergolakan kelompok Samin tidak melakukan konfrontasi fisik seperti halnya para pemimpin pergolakan kemerdekaan lainnya yang dikenal khalayak umum. Dan salah satu cara perlawanannya adalah membuat kegiatan ekonomi seperti Mbakyu Rupiyah untuk membredel monopoli perdagangan penjajah Belanda.

Pada saat Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, keesokan hari tepatnya 18 Agustus 1945, Indonesia menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 yang didalamnya ditetapkan mata uang Rupiah sebagai satuan mata uang yang berlaku di Indonesia, menggunakan emas sebagai nilai ekonominya. Tidak disebutkan secara gamblang dalam sejarah Republik Indonesia bahwa nama Rupiah mengadopsi nama Mbakyu Rupiyah, namun sebagai sebuah cuplikan peristiwa yang tercatat pada roman Arok Dedes tersebut bisa dikatakan bahwa sekelumit kisah Mbakyu Rupiyah merupakan referensi bagi penetapan satuan nilai keuangan Indonesia.

Pola perilaku perdagangan Mbakyu Rupiyah menganut cara perekonomian yang mengedepankan komoditas yang diperdagangkan sebagai satuan kuantitas produk yang memiliki nilai ekonomi berimbang antara kemampuan konsumsi pelanggan dengan kemampuan nilai mata uang yang dimiliki oleh pelanggan. Sehingga transaksi ekonomi yang terjadi berdasarkan pola tawar menawar diantara pedagang dan pelanggan tanpa menggunakan nilai uang tetap sebagai landasan transaksi.

Pola interaksi antara pedagang dan pelanggan yang berdasarkan pada kesopanan, tata karma hingga keluwesan dalam komunikasi diantara kedua pihak merupakan ciri khas yang diterapkan dalam transaksi keuangan Mbakyu Rupiyah, sehingga berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk konsumsi yang dilakukan merupakan sebuah mufakat oleh pedagang dan pelanggan.

Konsepsi Mbakyu Rupiyah merupakan hal jamak dan bertahan di Indonesia hingga sekarang, transaksi dengan cara tersebut biasa ditemukan di pasar-pasar tradisional dan kedai di seluruh pelosok negeri Indonesia hingga era modern. Sebagai salah satu transaksi ekonomi tertua di dunia, Mbakyu Rupiyah merupakan pengetahuan umum bagi masyarakat Indonesia, dan membuat masyarakat Indonesia diberbagai daerah mampu menghadapi berbagai gejolak ekonomi di setiap musim, sehingga menjadi janggal apabila konsepsi Mbakyu Rupiyah tak mampu diadopsi pemerintah Indonesia sekarang sebagai salah satu cara untuk pertumbuhan perekonomian khususnya memperkuat nilai mata uang Rupiah terhadap mata uang dunia lainnya. (lin) – bersambung.

*Diterbitkan di Koran Harian PALAPA POS, edisi 9 April 2015, dengan tajuk yang sama.

Iklan

Satu respons untuk “Mbakyu Rupiyah, Kilas Pandang Mata Uang Indonesia

  1. I have been browsing on-line greater than three hours
    these days, yet I never discovered any fascinating article like yours.
    It’s pretty worth sufficient for me. In my view, if
    all webmasters and bloggers made excellent content as you
    did, the web shall be much more useful than ever
    before.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.