Penguatan Mata Uang Rupiah (III)

Pemerintah Indonesia pertengahan Maret 2015 mengumumkan paket kebijakan ekonomi penguatan rupiah terhadap USD. Diketahui sejak bulan Januari 2015 nilai mata uang rupiah mengalami penurunan atau depresiasi. Pada bulan Januari posisi rupiah pada level Rp 12.659 per USD 1, penurunan nilai rupiah ini melanjutkan tren sejak tahun 2014, yang pada saat itu disinyalir tahun politik menjadi penyebab depresiasi rupiah dan setelah Pemilu 2014 selesai, maka rupiah di asumsikan rebound.

Pemerintah Indonesia memandang bahwa faktor penyebab lemahnya rupiah adalah menguatnya perekonomian Amerika Serikat, pemerintah pun kemudian membandingkan nilai rupiah dengan mata uang negara lain khususnya Asia Tenggara yang juga mengalami depresiasi terhadap USD. Bahkan pemerintah mengklaim bahwa rupiah justru menguat dibanding dengan mata uang lain selain USD.

Sementara sejak tahun 2014, Bank Indonesia mematok suku bunga perbankan pada level 7,75 persen, dengan asumsi patokan suku bunga ini memunculkan gairah untuk mengkonsolidasi keuangan di sektor perbankan. Namun BI rate inipun memunculkan persoalan tersendiri, pelaku usaha yang melakukan transaksi kredit perbankan mengalami kesulitan dengan beban suku bunga tersebut.

Sampailah Indonesia pada Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara Perubahan atau RAPBNP tahun 2015, yang menganggarkan pembiayaan di berbagai sektor program kerja pemerintahan. Pada RAPBNP 2015 disepakati bersama antara Kabinet Kerja dengan anggota DPR RI mengenai besaran pembiayaan di berbagai sector program kerja pemerintah.

Saat RAPBNP 2015 sedikit di singgung mengenai posisi rupiah terhadap USD, juga mengenai BI rate yang dianggap terlalu tinggi, dan didesak untuk menurunkan suku bunga perbankan. Penurunan BI rate diamini oleh Gubernur BI dengan mematok BI rate pada level 7,5 persen, dengan asumsi meringankan beban suku bunga bank bagi pelaku usaha dan mencapai keseimbangan baru dengan mengasumsikan rupiah pada level Rp 12.500 per USD di tahun 2015.

APBNP 2015 telah disahkan, beberapa sektor program kerja pemerintah mendapatkan peningkatan anggaran dibanding pada tahun 2014, Kabinet Kerja pun mulai bekerja. Namun selama tiga bulan berjalannya pemerintahan rupiah mengalami kemerosotan nilai, yang pada awalnya dianggap sepele oleh para pemangku tanggungjawab keuangan pemerintah. Bahkan ada beberapa Menteri di Kabinet Kerja menganggap depresiasi rupiah merupakan peluang bagi perdagangan Indonesia terhadap luar negeri.

Asumsi menurunnya nilai rupiah mendongkrak ekspor dan neraca perdagangan Indonesia di klaim benar dengan terjadinya deflasi dan surplus neraca perdagangan pada bulan Februari 2015. Sementara para pelaku ekonomi Indonesia memandang bahwa yang terjadi bukanlah keuntungan perdagangan, namun penurunan nilai rupiah menggelembungkan neraca perdagangan, yang sesungguhnya bukanlah keuntungan, yang terjadi adalah penyesuaian.

Pertengahan Februari 2015 nilai rupiah terpuruk pada level Rp 13.025 per USD, pemerintah menganggap bahwa apa yang terjadi sekarang berbeda dengan depresiasi yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008, sebab tidak terjadi inflasi pada neraca perdangangan, justru yang terjadi adalah surplus. Sementara nilai rupiah memiliki level psikologis tersendiri, sebab ekspektasi pelaku pasar sangat tinggi terhadap pemerintah, mengakibatkan penurunan rupiah 500 hingga 520 poin memunculkan kerisauan.

Begitu cepatnya pelemahan rupiah terhadap USD membuat pemerintah menggulirkan nilai keseimbangan baru bagi rupiah, Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per USD dianggap masih wajar, sepanjang tidak terjadi inflasi pada neraca perdagangan. Asumsi inipun sudah melenceng dari asumsi yang disepakati pada APBNP 2015.

Ketidaksesuaian, ketidakpastian dan lonjakan naik turunnya nilai rupiah memukul banyak sektor perekonomian rakyat. Pencabutan subsidi dianggap solusi bagi penguatan rupiah, sementara neraca perdangangan memang menguat, namun rupiah tidak kunjung menguat. Pemerintah menuding kebijakan keuangan The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat, sebagai biang keladi dari depresiasi rupiah.

Tudingan pemerintah bisa dimengerti, sebab sebagai sebuah perilaku keuangan, The Fed mengayun suku bunga perbankan di Amerika Serikat, hal ini disebabkan oleh trauma kemerosotan nilai properti di Amerika Serikat pada tahun 2008. Sehingga membuat The Fed melakukan swing monetary policy terhadap valuta asing, dengan melakukan pulling capital USD dari seluruh pelosok dunia ke Amerika Serikat, mengakibatkan kelangkaan USD sehingga nilainya menguat.

Diimbangi dengan kemajuan produksi massal Amerika Serikat, ekspor dibidang elektronik ke berbagai negara di seluruh dunia memunculkan kebutuhan dunia terhadap USD tinggi. Sementara di dalam negeri Amerika Serikat melakukan investasi besar-besaran di bidang kesehatan dan mengeksploitasi nilai tambah USD terhadap perdagangan internasional yang dilakukan Amerika Serikat ke negara lain.

Secara spesifik kebijakan keuangan Amerika Serikat membuat rupiah terpuruk, ditambah dengan kebijakan pencabutan subsidi membuat rakyat terdampak akibat depresiasi rupiah. Sesungguhnya apabila depresiasi rupiah tidak dibarengi pencabutan subsidi maka yang terbebani hanyalah devisa negara, tidak merembet kepada kebutuhan pokok rakyat. Sementara beban devisa dapat ditanggulangi dengan melakukan kebijakan moneter bilateral dan kawasan dengan beberapa negara tetangga dan negara yang biasa melakukan transaksi perdagangan internasional dengan Indonesia seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.

Dengan memperluas kerjasama perdagangan banyak negara tentunya kekhawatiran defisit pada neraca perdagangan takkan terjadi, bahkan menjadi peluang untuk melakukan penguatan kebijakan keuangan Indonesia. Semestinya pemerintah menjadi  tameng bagi rakyatnya atas gejolak perekonomian global, namun bukannya menjadi tameng, pemerintah justru membiarkan kebutuhan pokok rakyat berhadap-hadapan dengan mekanisme pasar bebas, yang mengakibatkan terhimpitnya rakyat untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. – Bersambung (lin)

*Diterbitkan Koran Harian PALAPA POS, edisi 11 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.