Kata Pengantar

Bismillahirrahmannirrahim,

Dengan rahmat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam, Kanapala STIE Kusuma Negara menyusun petunjuk pelaksanaan pelatihan Search and Rescue (SAR) bagi korban bencana alam, juga untuk korban kecelakaan transportasi udara yang sehubungan dengan pegunungan. Besar harapan anggota Kanapala untuk memiliki kemampuan untuk memberi kontribusi kepada masyarakat dalam bentuk penyelamatan dan pertolongan kepada korban bencana alam, juga untuk korban kecelakaan transportasi udara di jajaran pegunungan di Indonesia.

Disusunnya naskah pelatihan SAR ditujukan bagi segenap anggota Kanapala untuk mempersiapkan kemampuan mandiri dan kemampuan kelompok agar bisa bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelamatan dan pertolongan, baik institusi Negara seperti Basarnas dan KNKT, juga institusi swadaya masyarakat seperti Green Ranger, GPO juga Wanadri serta organisasi-organisasi pecinta alam mahasiswa yang bersifat otonom di seluruh penjuru negeri. Penyusunan naskah pelatihan SAR tidak bermaksud untuk mengambilalih peran pengurus aktif di pegunungan, justru untuk memberikan kontribusi organisasi Kanapala kepada masyarakat untuk memenuhi kewajiban Kanapala melaksanakan Wawasan Almamater.

Berbagai unsur yang berhubungan dengan pelaksanaan SAR, tentunya dikaji dalam penyusunan naskah, seperti Orientasi Medan (Navigasi), kemampuan Survival di alam, kemampuan teknis P3K, pengenalan alat pelaksanaan SAR (keterampilan penggunaan alat), serta kesiapan mental (jasmani dan rohani) anggota Kanapala untuk mampu melaksanakan SAR. Pokok-pokok pemikiran yang terkandung dalam unsur pelaksanaan SAR dikaji agar anggota Kanapala menjadi sigap dan tangguh untuk melaksanakan kegiatan SAR, baik secara mandiri maupun berkelompok.

Kemampuan teknis SAR manual (bersandar ke petunjuk alam) serta kemampuan teknis SAR mutakhir (bersandar ke teknologi) menjadi fokus pengkajian pelatihan SAR, agar anggota Kanapala memiliki kesiapan dan ketangguhan untuk mampu melaksanakan SAR di banyak kondisi, cuaca, jarak, alat, waktu serta jumlah personil. Diharapkan pelatihan SAR mampu menjadi nilai tambah bagi Kanapala serta anggota Kanapala agar menjadi organisasi pecinta alam yang memberi kontribusi ke masyarakat pada umumnya juga kepada mahasiswa STIE Kusuma Negara pada khususnya.

Minat dan bakat mahasiswa STIE Kusuma Negara menjadi organisasi kemahasiswaan (UKM) ditumbuhkan sebagai daya tarik organisasi untuk memiliki bakat umum maupun bakat khusus. Sehingga Kanapala menjadi organisasi yang mengasah kemampuan mahasiswa STIE Kusuma Negara secara utuh serta berwawasan. Hikmah dari pelatihan SAR nantinya diarahkan agar setiap mahasiswa yang menjadi anggota Kanapala memiliki rasa kemanusiaan yang luhur, kecakapan menggunakan berbagai alat manual dan mutakhir, juga memiliki daya saing untuk berkompetisi secara sehat di tatanan masyarakat.

Pengenalan Search and Rescue.

Unsur-unsur SAR

Dalam kegiatan SAR ada empat unsur yang dijadikan penentu keterampilan yang dibutuhkan sebagai penunjang suksesnya suatu tim SAR melaksanakan operasinya, yaitu :

  1. Identifikasi Lokasi : kemampuan untuk menentukan lokasi survivor (korban). Hal ini memerlukan pengetahuan menangani data peristiwa, keadaan survivor, keadaan medan. Kronologi peristiwa serta manifesto korban perlu diketahui agar dapat menentukan titik koordinat korban.
  2. Identifikasi Personil SAR : kemampuan untuk mencapai survivor. Hal ini memerlukan keterampilan mendaki gunung, rock climbing, cara hidup di alam bebas, peta, kompas, membaca jejak. Untuk menentukan kategori personil dalam pelaksanaan SAR dibutuhkan pengetahuan personifikasi SAR, agar tim terbentuk berdasar kemampuan, kesigapan dan ketangguhan dalam melaksanakan SAR.
  3. Stabilisasi : kemampuan untuk menenteramkan survivor. Mutlak diperlukan pengetahuan P3K, gawat darurat, dan mengenal herbivora alam.
  4. Evakuasi : keterampilan membawa survivor. Memerlukan keterampilan merangkai alat keselamatan (tandu).
  5. Komunikasi : kemampuan untuk membentuk alat komunikasi kelompok SAR. Memerlukan keterampilan morse serta penggunaan alat komunikasi konvensional seperti handy talkie (HT), efisiensi telpon selular dan efisiensi peralatan navigasi (kompas dan GPS), serta efisiensi bahan bakar memasak makanan.

Tahapan SAR :

Beberapa tahapan SAR, yaitu :

  1. Tahapan situasi, sadar bahwa keadaan darurat telah terjadi.
  2. Tahapan kesiapan, melaksanakan segala sesuatunya sebagai reaksi terhadap suatu kecelakaan, termasuk mengumpulkan informasi mengenai survivor.
  3. Tahapan perencanaan, membuat rencana yang efektif dan koordinasi yang diperlukan.
  4. Tahapan operasional, seluruh unit bertugas hingga misi SAR dinyatakan selesai.
  5. Tahapan laporan, membuat laporan mengenai misi SAR yang telah dilaksanakan.

Struktur Organisasi SAR

  1. Koordinator SAR (KSAR)

Pejabat wilayah atau daerah, yang karena jabatan, memiliki fungsi dan wewenang dapat memberikan dukungan yang diperlukan kepada Kantor Koordinasi SAR (KKSAR) untuk melaksanakan organisasi SAR.

2. Koordinator Misi SAR (KMSAR)

Bertugas pada kejadian SAR, melaksanakan evaluasi kejadian, perencanaan, serta koordinasi pencarian, sejak ditunjuk sebagai KMSAR hingga sampai operasi dinyatakan selesai. Jika wilayah pencarian terlalu luas dapat ditunjuk beberapa KMSAR dengan batas wilayah pencarian masing-masing yang jelas.

3. Komando Operasi Lapangan (KOL)

Ditunjuk oleh KMSAR untuk koordinasi dan pengaturan misi SAR ditempat kejadian. Jika pencarian menggunakan lebih dari dua unit SAR maka harus ada KOL.

4. Unit Pencarian dan Penyelamatan (UPP)

Merupakan tim pelaksana lapangan SAR. Wewenangnya terbatas pada pelaksana tugas-tugas yang diberikan KMSAR atau KOL.

Pencarian Operasi SAR.

Pola Teknis Pencarian (sweeping).

1.Pemetaan Jalur.

Digunakan jika survivor dinyatakan hilang dan jalur perjalanan yang direncanakan akan dilewatinya merupakan satu-satunya informasi yang ada. Penyusuran jalur dilakukan jika survivor masih berada di lintasan jalur atau berada dekat dengan garis jalur.

2. Paralel.

Digunakan jika daerah pencarian cukup luas dan medannya cukup datar. Pembentukan unitpun jika hanya memiliki posisi duga, sangat baik untuk daerah pencarian yang berbentuk segi empat.

3. Horisontal.

Digunakan jika daerah pencarian sempit, jauh dan kondisinya cukup datar. Apabila di punggungan gunung, pola horisontal akan turun ke jurang-jurang atau dataran yang lebih rendah.

4. Spin Tracking (Berputar).

Digunakan pada daerah yang datar, pola perhitungan posisi juga harus merupakan kemungkinan yang tepat. Setiap pembelokan membutuhkan presisi (ketepatan) penghitungan koordinat navigasi.

5. Sektoral (Konvergensi KOL).

Digunakan jika lokasi atau posisi diketahui, daerah peristiwa tidak luas. Pembentukan unit pencarian menggunakan pola segitiga sama sisi dengan konvergensi daerah pencarian melingkar.

6. Vertikal (Berjenjang).

Digunakan jika peristiwa terjadi di bukit-bukit, selalu dimulai dari puncak tertinggi dan menyusur ke daerah yang rendah.

7. Konfigurasi Alam.

Digunakan jika kondisi alam membatasi pencarian seperti hujan, kabut pekat, angin puting beliung dan tebing, dengan membentuk pos-pos penyelamatan di alam dengan perhitungan yang pasti bahwa survivor meraba ketentuan lingkungan. Biasa digunakan jika regu penyelamat tidak bisa mendekati tempat yang terkena musibah.

Pengaruh Faktor Pemilihan Pola Pencarian.

Beberapa faktor yang menentukan dalam pemilihan pola pencarian merupakan rujukan bagi keberhasilan SAR. Sebab menentukan pola pencarian yang efektif dan sesuai dengan kondisi alam merupakan faktor untuk efisiensi stamina, biaya operasional, sumber energi alat seperti baterai dan bahan bakar untuk logistik, yaitu :

Ketepatan posisi survivor

Luas dan bentuk daerah pencarian

Jumlah dan jenis KOL yang terbentuk

Cuaca di dan ke daerah pencarian

Jarak pos komando KOL ke lokasi musibah

Kemampuan peralatan bantu navigasi di daerah kejadian

Tingkat kesukaran dan kemudahan sasaran yang diketahui

Pilihan peluang berdasarkan ruang gerak

Situasi dan Kondisi di daerah peristiwa

Dukungan logistik ke daerah pencarian

Taktik Pencarian.

Taktik pencarian dapat bervariasi, tergantung pada situasi tertentu. Secara umum tercakup dalam lima metode pencarian, yaitu :

1. Simulasi Peristiwa.

Merupakan usaha-usaha untuk mendapatkan informasi awal, mengkoordinir regu-regu pencari, membentuk pos pengendali perencanaan pencarian awal dan hal-hal yang bersifat persiapan tim SAR.

2. Simulasi Penemuan Survivor.

Menyusun dan membentuk garis lintas (perimeter) untuk sweeping korban di area pencarian.

3. Simulasi Deteksi Lokasi Survivor.

Pemeriksaan terhadap tempat potensial dan juga menggunakan pencarian potensial. Pada area tersebut penghitungan ditemukannya survivor atau jejak ataupun sesuatu yang tercecer menandai posisi survivor.

4. Simulasi Tracking.

Melacak jejak atau sesuatu yang ditinggalkan survivor. Biasanya pelacakan dilakukan dengan anjing pelacak atau orang yang memang dilatih khusus untuk mencari dan membaca jejak.

5. Simulasi Evakuasi.

Memberikan perawatan dan membawa survivor untuk perawatan yang lebih lanjut jika diperlukan.

Teknis Pelatihan SAR Kanapala.

Pembentukan kemampuan anggota Kanapala untuk memiliki kontribusi aktif terhadap masyarakat, diperlukan kecakapan untuk melakukan tindakan-tindakan pelestarian alam, juga penyelamatan dan pertolongan terhadap korban bencana alam dan transportasi udara di pegunungan dalam bentuk operasi tim SAR.

Beberapa pelatihan dipersiapkan agar anggota Kanapala memiliki kemampuan SAR, yaitu :

1. Fisik.

Memiliki stamina yang tangguh untuk operasi tim SAR membutuhkan beberapa pelatihan, seperti pengaturan pola pernafasan yang selaras dengan langkah kaki; pembentukan otot bisep, otot trisep, serta otot perut untuk kemampuan membawa alat operasi tim SAR.

Pelatihan untuk pembentukan stamina bisa dengan berlari bebas (jogging), berlari waktu (stepping), berlari beban (forsiding terrance); push up bebas (muscling), push up waktu (timing) dan push up beban (forsiding tools). Berlari dan push up diperuntukan agar keselarasan ruang gerak, kekuatan memikul alat, serta pengaturan tenaga ke lokasi tujuan terbentuk.

Pelatihan renang; untuk pembentukan kelincahan gerak, agar meskipun memiliki otot yang mengeras tetap memiliki keluwesan dalam bergerak. Pelatihan renang kolam buatan diperuntukan memiliki kekuatan menempuh jauhnya jarak, sebab ph (kadar air) kolam renang buatan memiliki muatan untuk mencapai terbentuknya ketepatan waktu dengan membawa alat. Renang danau; untuk pembentukan gerak yang berdasar pada gravitasi bumi, sebab danau memiliki ph daya serap terhadap gravitasi. Jika anggota Kanapala berlatih untuk renang danau dan berhasil, maka kemungkinan anggota kanapala tenggelam di perairan bisa di minimalisir. Renang laut; untuk pembentukan kecepatan gerak, sebab ph air laut memudahkan untuk berenang, jika anggota Kanapala diberikan pelatihan renang laut, ditargetkan jarak tempuh dan berhasil, maka anggota dapat diperluas kemampuannya merenangi antar pulau.

Pelatihan lompat tali (skipping) berguna untuk mencapai keseimbangan dalam bergerak (forsiding area and movement). Sebab kondisi pegunungan yang mampu mempengaruhi pola langkah, maka skipping berguna agar anggota Kanapala tidak gontai dan mampu melangkah dengan kokoh mencapai daerah peristiwa tim operasi SAR.

Pelatihan penggunaan kayak atau kano untuk anggota Kanapala memiliki kemampuan menyusuri curam sungai yang mengalir di badan dan kaki pegunungan, jika daerah peristiwa operasi SAR berada di sudut-sudut pegunungan yang tak dapat ditempuh melalui jalur darat pegunungan.

Berbagai pelatihan untuk membentuk stamina dapat dilakukan oleh anggota Kanapala, baik secara mandiri maupun secara berkelompok. Untuk peningkatan stamina anggota bisa diberikan kebebasan untuk mengatur jadwal latihannya agar kesadaran untuk meningkatkan stamina dapat tumbuh meski memiliki berbagai keterbatasan.

2. Kognisi.

Anggota Kanapala memiliki kebutuhan untuk memperluas referensi dalam teknis pengenalan medan, teknis pengenalan alat, teknis pengenalan waktu, teknis merangkai potensi alat dan alam, teknis penggunaan teknologi, serta teknis pengenalan kaedah dan faedah alam yang ditujukan untuk memiliki kemampuan memberikan perawatan, penenteraman, serta evakuasi survivor dengan menggunakan potensi alam dan potensi alat dalam tim operasi SAR. Beberapa referensi dapat di koordinasikan dengan institusi-institusi yang mudah dijangkau dan dekat dengan Kanapala, seperti Kopassus, Balai Kesehatan Cijantung, serta kemudahan yang baru saja terbentuk yaitu kesatuan Damkar Cijantung, ketiganya berlokasi di depan balai komando Kopassus, Cijantung. Perluasan referensi untuk Kanapala diperuntukan agar anggota Kanapala dapat melakukan riset pustaka pengkaderan, riset pustaka kemandirian tindakan serta riset pustaka etos dan etika para komando mutakhir untuk mencapai pembentukan pelaksanaan yang komprehensif.

Fokus perluasan referensi adalah pengenalan bahan baku alat yang ringan dan efektif untuk dipikul, sehingga ketika anggota Kanapala diberikan penugasan untuk bergabung dengan tim operasi SAR, memiliki pengetahuan untuk memilih alat yang berbahan baku ringan yang memiliki bobot kuat untuk melintasi alam dan melakukan evakuasi survivor tim operasi SAR. Pengetahuan pengobatan yang alamiahpun bisa dicapai dengan mengetahui bahan baku obat yang digunakan untuk perawatan, penenteraman dan kesehatan survivor ketika operasi SAR berlangsung. Sejak tahun 1990 bahan baku alat yang ringan dan kokoh diketahui adalah titanium, yang merupakan peleburan biji besi dengan pasir kuasa yang disekat dan diperhalus dengan plastik. Sejak 2007 bahan baku pengobatan yang alamiah dan jamak untuk perawatan, penenteraman dan kesehatan survivor diketahui adalah saripati ikan pari.

3. Konasi.

Pelatihan pengetahuan dasar untuk membentuk potensi alat menjadi potensi pertolongan dan penyelamatan, seperti teknik tali temali dan simpul-simpul dasar, yaitu :

Simpul reef

Simpul delapan

Simpul penggabungan

Simpul nelayan

Simpul webbing

Simpul bowline

Simpul manharness hitch

Simpul quick release

Simpul mata pancing

Diperuntukan agar anggota Kanapala memiliki kemampuan untuk membuat tandu, menjadi pelopor pasak tebing, menjadi pemandu morse, menjadi pemasang jejak sweeping, serta berperan aktif dalam pengambilan keputusan untuk pembentukan pos-pos alam yang terkait dengan pola pencarian konfigurasi alam. Pengetahuan dasar tali temali merupakan kemampuan untuk merangkai bivak alam, bivak tenda, serta bivak perseorangan. Sebab pengetahuan untuk mampu membuat simpul-simpul tali temali menggunakan akar, menggunakan daun jalar, menggunakan semak belukar merupakan inti dari pembentukan pos-pos alam untuk mengatasi perubahan-perubahan cuaca yang terkadang silih berganti dalam tempo yang singkat di pegunungan.

Pelatihan dasar penggunaan kompas diperlukan untuk menentukan arah yang dituju, sehingga pengetahuan penggunaan yang berkembang menggunakan GPS desktop dan GPS mobile dapat dengan mudah diadaptasi. Perbedaan mendasar dari kompas dan GPS adalah kompas menentukan koordinat tujuan yang bersandar pada gravitasi bumi sehingga kompas diberikan ratio pergeseran berdasarkan titik pantul gravitasi terhadap perut bumi dan kontur ketinggian, kecuraman, kelandaian jalur pegunungan; sementara GPS menentukan patokan dari titik A ke titik B dan seterusnya (azimuth), sebab GPS bersandar pada satelit yang sangat tergantung pada kondisi luar angkasa dan lapisan atmosfer bumi, sehingga GPS diberikan ratio pergeseran dari posisi berdasarkan penetrasi laras satelit terhadap lapisan atmosfir dan langit di bumi. Pelatihan pembacaan peta gunung untuk mengetahui kontur gunung dan dapat memilih jalur untuk mempersingkat perjalanan menuju daerah peristiwa, koordinat yang terdapat di peta apabila di kombinasi dengan titik lintang dan titik bujur bumi bisa untuk mengetahui prakiraan cuaca yang akan dihadapi pada saat operasi SAR berlangsung.

Adapun pengetahuan manual untuk menentukan arah tim operasi SAR adalah dengan bayangan yang merupakan refleksi dari cahaya matahari di waktu siang, rangkaian gugusan bintang di waktu malam, dan pergumulan awan saat cuaca cerah ataupun mendung di saat siang dan malam. Refleksi bayangan matahari menentukan posisi dan lokasi awal untuk mengetahui tujuan dengan mematok mata angin utara, dan berturut-turut disusun dengan mata angin timur laut, timur, tenggara, selatan, barat laut, barat, barat daya sesuai arah waktu atau petunjuk jarum jam ataupun sebaliknya. Begipula dengan gugusan bintang, yang berpatokan pada cahaya bintang tunggal yang paling terang dari permukaan bumi yang disebut dengan bintang fajar yang berasal dari refleksi cahaya matahari ke planet mars, jika ditemukan maka dapat diketahui posisi mata angin timur yang kemudian dapat dirangkai rasi-rasi bintang berpusat kepada matahari sebagai tata surya (bima sakti) yang terhampar di langit untuk mengetahui prakiraan jarak tempuh antar KOL ke tujuan operasi SAR, dari timur ke barat dan utara ke selatan; berdasarkan pengalaman dan riset pustaka penulis, bintang fajar beredar pada pukul 23.00 sampai 5.45 waktu Indonesia. Sedangkan pergumulan awan adalah untuk mengetahui mata air, agar anggota tim  operasi SAR dapat terhindar dari dehidrasi, sebab pergumulan awan terbentuk dari proses asimilasi air (sungai, danau dan laut) dengan panas bumi dan matahari untuk menjadi hujan.

Penutup

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam atas diberikannya kemampuan untuk menyusun serta melaksanakan pelatihan SAR. Dihaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh anggota Kanapala atas pengalaman, pendidikan, kesetiakawanan sosial, budi pekerti luhur, serta kecintaan Kanapala terhadap kemanusiaan dan alam Indonesia.

Kemampuan pelaksanaan tim operasional SAR baik manual ataupun mutakhir bagi Kanapala STIE Kusuma Negara diperlukan agar ketika anggota Kanapala diberikan penugasan untuk melakukan SAR dapat dipenuhi secara maksimal. Serta diperuntukan agar Kanapala memiliki nilai tambah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat pada umumnya dan bagi mahasiswa STIE Kusuma Negara pada khususnya. Apabila terdapat peningkatan kualitas dan kuantitas kenggotaan Kanapala merupakan hasil dari jerih payah Kanapala dalam memberikan pengetahuannya kepada khalayak umum.

Adapun penggunaan istilah serta penggunaan penyingkatan kata, merupakan produk Kanapala STIE Kusuma Negara yang berlaku umum untuk diadaptasikan dengan penggunaan istilah serta penggunaan penyingkatan kata yang berlaku khusus di organisasi eksternal yang bekerjasama dengan Kanapala STIE Kusuma Negara, Cijantung.

Dihaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pengabdian dan dedikasi anggota Kanapala, Ketum Slamet Supriyadi, Ketum Budi Teko, Ketum Muttabarizal ibn Solehuddin, Ketum Yunus Sugilar, Ketum Abdul Syahid Hasan, Ketum Biyan Ardifan, Ketum Husni Andika, Ketum Wahyu Sutrokh Bunamjaya, sebagai pandu pendidikan dan kegiatan pecinta alam Kanapala STIE Kusuma Negara. Dihaturkan terima kasih pula atas kebijaksanaan mentor teknis pecinta alam penyusun naskah; Bowo Agus Nugroho, Choirul Anwar, Soni Citra, Yudi Setiawan, Juli Hartono, Ari Cicak, Surya Asyanto, Decky Pramuditya, Syamsudin, Ema Ariandita, Ichwansyah, Randy Triska, Triputra Setiawan, Enjang Zainuddin, Gunawan ibn Abdulloh, David Indarto, Hadi Saputra, Adam ibn Rifai, Mohammad Ongky. Dihaturkan rasa syukur kepada pendiri Kanapala STIE Kusuma Negara, Triawan Adi Setya; dan pemikul organisasi kemahasiswaan Kanapala, Soni Sonjaya, Endri Budiman, Cahyo Sudiyatmiko, Nurdin Porodaras dan Supit Sumendang.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Akhmad Batara Parenta Parlindungan Siagian (KNP 10.013.130)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.