Indonesia merupakan kawasan entitas kebangsaan yang mendiami gugusan pulau-pulau di katulistiwa. Biasa disebut zamrud katulistiwa, Indonesia memiliki begitu banyak keanekaragaman hayati yang melimpah. Dari Sabang hingga Merauke, keindahan panorama Indonesia tak luput dari perhatian berbagai bangsa di dunia. Secara khusus wilayah zamrud katulistiwa yang merupakan kekayaan hayati Indonesia yang paling utama akan keanekaragamannya adalah pulau Kalimantan. Pulau Kalimantan yang didiami oleh tiga bangsa sekaligus yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi pesona tersendiri dan memiliki potensi yang sangat memadai dari sisi geo politik dan geo ekonomi.

Sebagai pulau yang merupakan poros katulistiwa dan paru-paru bagi dunia, Kalimantan memiliki hutan yang begitu luas, dan satu-satunya pulau terbesar di dunia yang dialiri ratusan sungai yang memilah-milah Kalimantan. Sepanjang sejarahnya, Kalimantan identik dengan kemakmuran dan kesejahteraan, dimana segala bentuk sisi kehidupan banyak bertumpu pada kekayaan alamnya. Hutan tropis dan pasar apung merupakan ciri khas tersendiri di pulau Kalimantan dan penduduknya yang ramah serta memegang teguh adat istiadat merupakan nilai pokok dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat di Kalimantan.

Dengan luas tanah 743.330 kilometer persegi (287.000 mil persegi, 74,33 juta hektar, atau 183,6 juta are) dan populasi manusia 17,7 juta, dimana 17% atau 2,2 juta adalah suku pribumi Dayak dilintasi oleh tiga negara Malaysia (kota Sabah dan Sarawak) (26,7%), Brunei Darussalam (Kesultanan) dan (0,6%),Indonesia (Kalimantan – Barat, Tengah, Selatan, dan Timur) (72,6%). Memiliki keanekaragaman hayati 15.000 spesies tumbuhan, lebih dari 1.400 amphibi, burung, ikan, mamalia, dan reptil, serta serangga yang tak diketahui jumlahnya dan luas hutan yang meliputi Kalimantan sekitsar 50 persen dari pulau.

Dikenal juga dengan sebutan Borneo, pulau terbesar ketiga di dunia, dulunya dipenuhi oleh hutan hujan yang lebat. Dengan daerah pesisir rawa-rawa yang dibatasi oleh hutan bakau dan daerah bergunung-gunung, kebanyakan dari wilayah tersebut tampak tak mungkin dilewati dan dieksplorasi. Dukun dari suku pedalaman dulunya menguasai daerah-daerah terpencil dari pulau ini sampai satu abad yang lalu.

Di tahun 1980an dan 1990an, Borneo mengalami transisi yang menakjubkan. Hutan-hutannya ditebangi hingga tahap yang tak pernah terjadi di sejarah manusia. Hutan hujan Borneo berpindah ke negara-negara industri seperti Jepang dan Amerika Serikat dalam bentuk mebel untuk kebun, bubur kertas, dan sumpit. Awalnya, kebanyakan dari kayu tersebut diambil dari utara pulau bagian Malaysia kota Sabah dan Sarawak. Kemudian, hutan di bagian selatan Borneo, sebuah wilayah milik Indonesia dan dikenal dengan nama Kalimantan, menjadi sumber utama kayu tropis. Saat ini hutan-hutan di Borneo hanyalah bayangan dari legenda masa lalu dan yang masih ada sedang sangat terancam dengan meningkatnya pasar biofuel, terutama kelapa sawit.

Kelapa sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Satu hektar kelapa sawit bisa menghasilkan 5.000 kg minyak mentah, atau sekitar 6.000 liter minyak mentah, ini membuatnya menjadi tanaman yang paling menguntungkan bila ditanam di perkebunan yang luas — sebuah studi terhadap 10.000 hektar kebun menunjukkan bahwa tingkat pengembalian modalnya mencapai 26 persen per tahun. Karenanya, banyak petak-petak tanah yang diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Penanaman kelapa sawit di Indonesia telah meluas dari 600.000 hektar di tahun 1985 hingga lebih dari 6 juta hektar di awal 2007, dan diperkirakan mencapai 10 juta hektar pada tahun 2010.

Walaupun begitu, akhir-akhir ini telah ada beberapa berita positif mengenai konservasi dari Borneo. Februari 2007, pemerintah Brunei, Malaysia, dan Indonesia sepakat untuk melindungi sekitar 220.000 kilometer persegi (85.000 mil persegi) hutan tropis di tempat yang dinamakan “Jantung Borneo”. Kelompok lingkungan hidup WWF adalah salah satu pihak yang aktif dalam berdirinya daerah yang dilindungi ini.

Gemah Ripah Loh Jenawi Kalimantan

Hutan-hutan di Kalimantan adalah beberapa hutan yang memiliki keanekaragaman hayati paling banyak di planet ini. Menurut WWF, pulau ini diperkirakan memiliki setidaknya 222 spesies mamalia (44 darinya khas), 420 burung yang menetap (37 khas), 100 amphibi, 394 ikan (19 khas), dan 15.000 tumbuhan (6.000 khas) — lebih dari 400 dari yang telah ditemukan sejak tahun 1994. Survey menemukan lebih dari 700 spesies pohon di lahan 10 hektar — sebuah angka yang sama dengan jumlah pohon di Kanada dan Amerika Serikat, digabung.

Bakau
Bakau ditemukan di daerah pesisir dan muara. WWF memperkirakan bahwa luas daerah yang ditumbuhi bakau di Kalimantan mencapai 1,2 juta hektar, bagian yang sedikit — mungkin kurang dari 20 persen — dari keberadaan aslinya. Di Kalimantan, banyak kawasan bakau dibuka oleh para penebang hutan dan untuk pertanian.

Hutan Rawa gambut
Hutan rawa gambut adalah bentukan dominan dari apa yang tersisa di dataran rendah hutan di Kalimantan saat ini. hutan rawa ini muncul di daerah-daerah dimana vegetasi mati dipenuhi air dan, terlalu basah untuk membusuk, menumpuk sedikit demi sedikit menjadi rawa gambut. Tanah gambut tropis yang terbentuk dalam masa lebih dari ratusan tahun ini, adalah gudang raksasa untuk karbon. Mengeringkan dan/atau membakar tanah-tanah ini, akan melepaskan jumlah karbon dioksida yang luar biasa ke atmosfer. Daerah yang dikeringkan ini juga menjadi sangat mudah terbakar. Di bawah kondisi kering el Nino tahun 1997-1998, ribuan kebakaran mengamuk di daerah rawa gambut di Indonesia. Kebakaran di rawa gambut sangat sulit dipadamkan karena mereka dapat terbakar selama bulanan, dan tak akan terdeteksi secara sepintas karena terbakar di lapisan-lapisan lebih dalam dari tanah gambut tersebut. Di tahun 2002, menurut Langner dan Siegert (2005), hutan tanah gemuk ini menyelimuti sekitar 10 juta hektar di Kalimantan.

Hutan Pegunungan
Hutan pegunungan di Kalimantan biasanya ditemukan pada ketinggian 900 meter hingga 3.300 meter. Pohon-pohon di hutan ini umumnya lebih pendek dari yang ada di hutan dataran rendah, akibatnya kanopi yang ada pun tak terlalu lebat. Langner dan Siegert (2005) memperkirakan bahwa di tahun 2002 tersisa sekitar 70 persen (1,6 juta hektar) dari luas asli hutan montane di Kalimantan (2,27 juta hektar).

Hutan Kerangas
Hutan kerangas atau keranggas ditemukan di daerah yang sangat kering, dengan tanah berpasir yang sangat miskin nutrisi (“keranggas” adalah bahasa penduduk Iban untuk “tanah yang tak akan menumbuhkan beras”). Hutan-hutan ini dicirikan oleh pepohonan spesies tertentu yang toleran terhadap buruknya kondisi tanah, yang juga mengandung asam, dan sangat tidak bisa dibandingkan dengan hutan hujan pada umumnya. Hutan heath juga memiliki keanekaragaman hayati yang lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah tumbuhan tropis lainnya. MacKinnon et al. (1997) memperkirakan bahwa dulunya Kalimantan pernah memiliki 6.668.200 hektar hutan heath. Saat ini luasnya sudah sangat berkurang hingga Bank Dunia memperkirakan bahwa hampir tak akan ada hutan heath lagi di Borneo pada tahun 2010.

Hutan Dipterokarpa
Hutan dipterokarpa di dataran rendah adalah hutan yang paling beragam penghuninya dan paling terancam di Borneo (68% dataran rendah telah ditebangi di Kalimantan, 65% di Malaysia). Pepohonan raksasa ini, biasanya lebih tinggi dari 45 meter, adalah sumber kayu-kayu yang paling bernilai di Borneo dan telah ditebangi dengan buasnya selama 3 dekade ini. Langner dan Siegert (2005) memperkirakan bahwa hanya kurang dari 30 juta hektar hutan dipterokarpa dataran rendah yang tersisa di Kalimantan pada tahun 2002.

Meratanya dipterokarpa ini memberikan hutan-hutan Kalimantan dinamika tak biasa yang sangat terkait dengan fenomena atmosfer kelautan yang dinamakan El Niño-Southern Oscillation (juga dikenal sebagai ENSO atau “El Nino”). Menurut Lisa Curran, seorang biologis yang menghabiskan lebih dari 20 tahun di Kalimantan dan sekarang menjadi ahli terkemuka tentang sejarah alam pulau tersebut, reproduksi dipterokarpa sangat tak mungkin dilepaskan dari datangnya El Nino, dengan 80-93% dari spesiesnya menyamakan saat berbunga mereka dengan kondisi cuaca kering, yang biasanya muncul dalam jangka waktu 4 tahunan. Selama “tahun dipterokarpa” di Kalimantan, kanopi-kanopi menjadi berwarna-warni, seiring ribuan pepohonan dipterokarpa — tiap pohonnya mungkin memiliki 4000 bunga — berbunga selama masa 6 minggu, secara bergantian membuat lapar dan menimbuni pemakan bibit, hingga paling tidak sebagian bibit selamat hingga masa pengecambahan.

Berbunga secara massal dan diikuti dengan musim berbuah — yang telah diketahui akan sama dalam wilayah seluas 150 juta hektar (370 juta are) dan melibatkan 1.870 spesies — adalah anugerah bagi para pemakan bibit, termasuk babi hutan yang merupakan pemakan bibit utaman dalam ekosistem. Bibit dan babi hutan sangat lazim ditemui pada masa ini, hingga penduduk lokal melihat datangnya El Nino sebagai masa makmur, saat untuk memanen kacang Illipe untuk diekspor atau mengenyangkan diri dengan daging babi. Hubungan tersebut telah terjalin setua manusia telah tinggal di Kalimantan dan telah mengakar pada budaya masyarakatnya, mulai dari suku pedalaman hingga pedagang pesisir.

Tata Tenterem Kertaraharja, Memindahkan Ibukota Sebagai Solusi Ketatanegaraan

Sejak era Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, wacana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan telah berlangsung, kini disebabkan oleh begitu padatnya dan kompleksnya persoalan di Jakarta menjadikan Kalimantan berbenah untuk mempersiapkan pemindahan ibukota negara. Tujuan utama memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan adalah agar setiap pemerintahan di masa mendatang bisa melangkah konsisten dan terhindar dari berbagai langkah paradoks dalam mencapai cita-cita bangsa yang ingin mewujudkan Indonesia yang sejahtera, berkeadilan, dengan perekonomian yang tumbuh secara berkelanjutan.

Di satu sisi, pemindahan kota pusat pemerintahan Indonesia dan pusat kegiatan lembaga-lembaga negara ke salah satu lokasi di Kalimantan akan melahirkan episentrum baru yang mendekati sebagian besar kawasan tertinggal dan kawasan pinggiran yang selama ini tidak pernah efektif dibangkitkan lewat proyek-proyek pembangunan, seperti transmigrasi, percepatan pembangunan daerah tertinggal, percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia dan sebagainya. Di sisi lain, pemindahan ibu kota ke Kalimantan akan memudahkan pemerintah menata kota Jakarta dan kota-kota besar lain di Jawa yang terus-menerus menjadi tujuan para migran baru dari desa-desa di Jawa dan dari berbagai daerah di luar Jawa, serta menghindari ketegangan yang makin tinggi akibat menurunnya daya dukung alam di Jawa dihadapkan dengan makin bertambahnya penduduk di Jawa yang saat ini sudah mencapai 59 persen dari total penduduk nasional.

Muara dari dua sisi tadi akan berujung pada tujuan puncak dari pengelolaan negara bangsa Indonesia di masa depan, yakni pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, peningkatan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan, dan lahirnya wajah Indonesia yang bisa dibanggakan. Dengan kata lain, pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan adalah sebuah aksi strategis diantara beberapa aksi strategis yang diperlukan untuk mewujudkan paradigma baru pembangunan yang selama ini hanya hadir sebagai wacana yang menggantung, karena ia memiliki perkiraan efek yang jelas.

Agenda pemindahan ibukota tentunya bukan semata didasarkan pada pertimbangan ancaman terhadap dan ketidaklayakan Jakarta, melainkan didasarkan pada visi ke depan tentang tata kelola pembangunan kawasan dan antarkawasan secara nasional. Oleh karena tujuan pemindahan Ibu Kota itu bukan bersifat tunggal, maka ia harus berisi beberapa rencana tindakan strategis di bidang ekonomi, pembangunan kawasan, pemerintahan, politik, hukum, kebudayaan, dan tatanan sosial, yang kesemuanya bergerak saling mendukung, bukan merupakan masing-masing dinamika yang terpisah.

Pemindahan Ibu Kota adalah juga strategi untuk meredakan ketegangan-ketegangan dalam proses membangun yang selama ini mengalirkan energi secara tidak adil dan merata serta menimbulkan banyak paradoks dalam langkah-langkah yang diklaim untuk memperbaiki taraf hidup warga negara, mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan sebagainya. Perlu kiranya disadari, dengan episentrum yang mahakuat di Jakarta saat ini, ditambah porsi 80% industri yang berlokasi di Jawa, maka program transmigrasi penduduk keluar Jawa, percepatan pembangunan daerah tertinggal di luar Jawa, pengembangan pendidikan di luar Jawa, dan sebagainya, tidak akan bisa efektif dan optimal karena kuatnya daya tarik dari episentrum Kota Jakarta dan Pulau Jawa untuk menarik kembali berbagai sumber daya yang ada di luar Jawa, termasuk yang dialokasikan lewat berbagai kebijakan tadi.

Untuk tujuan pengentasan kemiskinan, dalam jangka menengah dan jangka panjang, hal ini dapat memecahkan dua karakteristik masalah kemiskinan sekaligus, yaitu karakteristik kemiskinan di Jawa dan luar Jawa. Kemiskinan di Jawa memiliki karakteristik kemiskinan Asia, yang disebabkan penduduk yang terlampau banyak dan padat. Sementara itu, kemiskinan di Indonesia bagian tengah dan timur berkarakter kemiskinan Afrika yaitu kemiskinan karena minimnya infrastruktur dan ditandai dengan penduduk yang jarang. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di Indonesia bagian tengah dan timur dapat menciptakan stimulasi untuk mengatasi persoalan ini dengan menciptakan keseimbangan baru secara bertahap.

Agenda pemindahan ibu kota itu tentu saja harus diiringi oleh beberapa tindakan strategis pendukung lainnya di bidang ekonomi, pembangunan kawasan, pemerintahan, politik hukum, kebudayaan, dan tatanan sosial, yang kesemuanya bergerak saling mendukung, bukan gerakan yang masing-masing otonom. Pemindahan ibu kota adalah jalan untuk meredakan ketegangan-ketegangan dalam proses membangun yang selama ini mengalirkan energi secara tidak adil dan menimbulkan banyak paradoks dalam langkah-langkah yang diklaim untuk memperbaiki taraf hidup warga negara, mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, dan sebagainya.

Agenda pemindahan ibu kota ke Kalimantan adalah agenda kunci untuk menata Indonesia, sejauh ia diiringi dengan agenda-agenda strategis lainnya, yang di dalamnya termasuk agenda menata Kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Pemindahan ibu kota ke Kalimantan adalah jalan untuk menata perekonomian nasional agar betul-betul bisa meraih pertumbuhan yang berkualitas, karena memperbesar peluang untuk memanfaatkan sumber daya alam, daya dukung lingkungan, dan manusia secara efisien.

Dalam konteks upaya nation building, pemindahan ibu kota ke Kalimantan juga akan menghasilkan tonggak nasionalisme baru Indonesia, karena penempatan Ibu Kota di titik tengah nusantara itu bisa menjadi simbol kebersamaan antara berbagai bagian Indonesia, simbol untuk berbagi, yang akan mendorong semua warga negara merasa lebih memiliki Indonesia. Kalimantan di sekitar bagian selatan agak ke timur, adalah titik tengah nusantara diantara rentang Sabang-Merauke dan rentang Miangas dan Pulau Rote.

Manfaat ekonomi Ibu Kota baru

Pemindahan ibu kota ke Kalimantan, meskipun akan memakan biaya sekitar Rp Rp 50 hingga Rp 100 triliun, tidak dikeluarkan sekaligus. Pembiayaan dilakukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun, dengan rata-rata Rp 5 sampai 10 triliun pertahun. Biaya tersebut merupakan investasi bangsa yang akan menghasilan keuntungan berlipat-lipat dalam jangka panjang, untuk masa depan NKRI sepanjang usianya. Ibu Kota yang baru akan menambah daya tarik Indonesia di mata dunia internasional, dan daya tarik itu akan mendatangkan nilai devisa bagi negara melalui aliran masuk investasi maupun wisatawan. Sejauh kita bisa mendorong persebaran kedatangan pemodal dan wisatawan asing itu ke berbagai wilayah di Indonesia, peningkatan devisa itu tentu akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Pengeluaran Rp 100 triliun untuk waktu sepuluh tahun, atau kurang dari 1% nilai APBN, jelas jauh lebih rendah dibandingkan kerugian akibat kemacetan di Jakarta yang sekarang mencapai di atas Rp 20 triliun per tahun, dan degradasi lingkungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Apabila kerugian akibat kemacetan tersebut digabungkan lagi dengan kerugian akibat banjir, kemerosotan daya dukung lingkungan, kemerosotan kualitas hubungan sosial, dan sebagainya dengan nilai yang terus meningkat dari tahun ke tahun, investasi memindahkan ibu kota menjadi jauh lebih besar lagi manfaatnya.

Dari total investasi untuk infrastruktur dan sarana yang dibangun di Ibu Kota baru ini tentu sebagian akan berfungsi juga sebagai penjual jasa-jasa pemerintahan kepada publik. Infrastruktur dan sarana itu misalnya adalah jaringan listrik, instalasi air bersih, bandara, pelabuhan dan beberapa lainnya. Artinya, untuk jenis infrastruktur dan sarana tertentu, dalam jangka panjang investasi yang dikeluarkan bisa dikembalikan dari pembayaran yang dikenakan kepada pengguna jasa. (Lin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.