Upacara Adat Maluku Tengah Panas Pela, Pela Gandong

Upacara Adat Maluku Tengah Panas Pela, Pela Gandong

Nusantara memiliki ragam budaya hayati yang membentuk Indonesia menjadi bangsa yang utuh. Dalam perjalanan kebangsaan, Indonesia kerap dihadapkan pada kondisi pasang-surut namun Indonesia mampu menjawab tantangan jaman dengan luar biasa yaitu dengan beradab dan berbudaya, khususnya dalam mengatasi friksi di tatanan sosial masyarakat.

Majalah Explore edisi kali ini akan mengupas satu ragam budaya
istimewa yang merupakan kekayaan hayati Indonesia, yaitu ragam
budaya tanah Maluku. Daerah ini merupakan salah satu provinsi
bahari di Indonesia karena 90 persen wilayahnya merupakan lautan.
Sebagian besar masyarakatnya hidup nelayan, tidak heran jika
tangkapan ikannya terbesar di Indonesia. Selain itu Maluku
memiliki budaya leluhur yang masih dipegang teguh dalam
masyarakatnya.

Sejarah Pela Gandong

Ada satu kebudayaan khas di tanah Maluku, khususnya Maluku Tengah, yang tidak dapat dijumpai di bumi Indonesia lainnya. Kebudayaan tersebut dikenal dengan Pela Gandong. Kerap menjadi kebanggaan masyarakat Maluku sejak dulu hingga sekarang. Pela diartikan sebagai “suatu relasi perjanjian persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain yang berada di pulau lain dan kadang menganut agama yang berbeda.” Sedangkan gandong bermakna “adik”. Perjanjian ini diangkat dalam sumpah yang tidak boleh dilanggar. Pada saat upacara sumpah, campuran soppi (tuak) dan darah dari tubuh masing-masing pemimpin negeri akan di minum oleh kedua pemimpin setelah senjata dan alat-alat tajam lain di celupkan, atau dilakukan dengan memakan sirih pinang. Hubungan Pela ini terjadi karena suatu peristiwa yang melibatkan beberapa desa untuk saling membantu. Dalam ikatan Pela terdapat rangkaian nilai dan aturan mengikat dalam persekutuan persaudaraan atau kekeluargaan.

Empat hal pokok yang mendasari Pela yaitu negeri-negeri yang ber
Pela wajib saling membantu pada kejadian genting (perang atau
bencana alam), maupun saat melaksanakan kegiatan kepentingan umum, seperti pembangunan sekolah, masjid, gereja. Apabila seseorang sedang mengunjungi negeri yang ber Pela maka orang-orang di negeri itu wajib memberi makanan kepadanya dan tamu yang se Pela tidak perlu meminta ijin membawa pulang hasil bumi yang menjadi kesukaannya, karena penduduk negeri-negeri yang ber Pela itu dianggap sedarah maka dua orang yang se Pela dilarang menikah. Bagi yang melanggar ketentuan konon akan mendapat hukuman dari nenek moyang. Contohnya, seseorang ataupun keturunannya akan jatuh sakit atau meninggal. Jika melanggar pantangan menikah akan ditangkap kemudian berjalan mengelilingi negerinya dengan berpakaian daun kelapa. Sedangkan penghuni negeri akan mencaci sebagai pezina. “Sei Lesi Sou, Sou Lisa Ei” atau Siapa Langgar Sumpah, Sumpah Hukum dia, Nenek Moyang.

Ada beberapa alasan mengapa Pela Gandong cukup kental di Maluku Tengah. Dari segi antropologis, masyarakat asli Maluku Tengah berasal dari dua pulau besar yaitu Pulau Seram dan Pulau Buru kemudian berrmigrasi ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Para
migran dari Pulau Seram menyebar ke Kepulauan Lease/Uliaser (Pulau Haruku, Pulau Saparua, dan Pulau Nusalaut) dan Pulau Ambon. Migrasi ini berdampak terjadinya asimilasi kebudayaan baru
(kebudayaan Seram) yang mendapat pengaruh dari kebudayaan sekitar yaitu kebudayaan Melanesia, Melayu, Ternate, dan Tidore. Dari sini dapat disimpulkan bahwa daerah Maluku Tengah memiliki satu kebudayaan yang sama.

Jika ditelusuri secara historis, para migran yang kebanyakan
berdiam di pegunungan lalu dipindahkan ke pesisir oleh pemerintah
Belanda dalam rangka pengawasan. Bukan hanya itu, Belanda juga
mengganti nama komunitas migran yang disebut Hena atau Aman dengan istilah Negeri. Struktur pemerintahan Negeri diatur menyerupai pemerintahan di Belanda sehingga negeri-negeri menjadi negara- negara kecil dengan pemerintah, rakyat dan teritori tertentu yang dipimpin raja yang diangkat dari marga-marga tertentu secara turun-temurun, dan kekuasanaan negeri dibagi untuk seluruh marga dalam komunitas negeri.

Dalam perkembangan sosio – historis, negeri-negeri ini mengelompok dalam komunitas agama tertentu, kemudian dikenal dengan Anak Negeri Salam (beragama Islam) dan Anak Negeri Sarani (beragama Kristen). Laki-laki yang beragama Islam dipanggil dengan sebutan “Abang” dan perempuannya “Caca”. Sedangkan laki-laki beragama Kristen dipanggil dengan sebutan “Bu” dan perempuannya “Usi”. Kultur seperti ini memperlihatkan adanya kecenderungan yang menguatkan solidaritas kelompok, tetapi pada dasarnya rentan terhadap kemungkinan konflik. Oleh sebab itu dikembangkanlah konsep Pela Gandong sebagai suatu pola manajemen konflik tradisional guna mengatasi kerentanan konflik.

Sistem perjanjian Pela diperkirakan telah dikenal sebelum
kedatangan bangsa Portugis dan Belanda, serta digunakan untuk
memperkuat pertahanan dari bangsa Eropa yang berupaya memonopoli rempah-rempah. Perlawanan bersenjata kemudian dilancarkan oleh raja-raja dan sultan-sultan, antara lain Raja Leihitu, Raja Leitimu, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Khairun, Sultan
Baabulah, dan lainnya. Karena adanya perlawanan sengit maka
Belanda melancarkan politik “Devide et Empera” atau politik pecah
belah. Belanda sendiri masuk ke Maluku dengan membawa tiga misi
Gold, Glory dan Gospel. Gold adalah misi Belanda untuk mengambil
seluruh kekayaan alam Maluku, Glory untuk mendapatkan kemuliaan di mata masyarakat Eropa, dan Gospel untuk menyebarkan agama.

Misi terakhir berhasil menyebabkan masyarakat Maluku yang awalnya Muslim kemudian terpecah dua, Muslim dan Kristen. Karena adanya sentimen kelompok, maka perkelahian antara Negeri Muslim dan Negeri Kristen pun kerap terjadi. Agar diterima oleh seluruh komunitas masyarakat Maluku pemerintah Belanda mengembangkan kebudayaan Pela Gandong, selebihnya diyakini dapat meminimalisir gejolak sosial primordial sehingga sentimen antar kelompok dapat tereliminasi dengan kearifan budaya dan kepentingan ekonomi yang substansional.

Pengertian Pela

Pela berasal dari kata “Pila” yang berarti “buatlah sesuatu untuk
bersama. Jika ditambahkan akhiran “-tu” maka menjadi “Pilatu”,
artinya menguatkan atau upaya agar tidak mudah rusuh atau pecah.
Sedangkan Gandong sendiri bermakna Adik. Ada juga yang
menghubungkan kata Pela dengan Pela-pela yang berarti saling
membantu. Dengan beberapa pengertian ini dapat dikatakan bahwa
Pela adalah suatu ikatan persaudaraan atau kekeluargaan antara dua desa atau lebih dengan tujuan saling membantu satu sama lain.
Dalam arti bahwa senang susah dirasakan bersama.

Jenis Pela

Biasanya satu negeri memiliki satu atau dua Pela yang berbeda.
Pada dasarnya terdapat tiga jenis Pela. Pertama, Pela Keras,
timbulnya Pela ini dilatari oleh kejadian yang sangat penting
(bantuan khusus) untuk melawan peperangan atau pertumpahan darah. Kedua, Pela Gandong atau Bungso yang timbul karena adanya ikatan dan hubungan keturunan, artinya diantara pemimpin atau raja satu negeri dengan negeri lainnya memiliki hubungan keturunan, atau diantara beberapa keluarga di satu negeri dan di negeri lain menganggap diri mereka sebagai satu keturunan.

Pela Keras dan Pela Gandong memiliki kekuatan yang sama kuat
karena ditetapkan dengan sumpah disertai dengan kutukan dahsyat
yang akan menimpa satu pihak yang melanggar perjanjian. Terkadang perjanjian sumpah dilakukan dengan memateraikan dan mengambil darah dari tubuh kedua pemimpin kemudian meminumnya. Ketiga, Pela Tampa Sirih. Timbulnya Pela ini karena suatu peristiwa yang kurang penting karena suatu negeri berjasa dalam hal perdagangan maupun perdamaian.

Sejarah mencatat, sebelum konflik agama di Maluku beberapa tahun
silam kerukunan antar agama sangat kental. Terlihat dari banyaknya
pembangunan mesjid, gereja dan sekolah karena bantuan dari negeri
Pela, baik berupa tenaga kerja, bahan bangunan, uang ataupun
makanan bagi pekerja. Saat konflik terjadi, negeri-negeri yang ber
Pela seperti negeri Siri-Sori Islam dan negeri Haria atau antara
negeri Laha dan negeri Amahusu, mereka tidak menganggapnya konflik karena tidak mungkin melanggar perjanjian para leluhur.

Perdamaian Melalui Pela Gandong

Julukan Seribu Pulau yang disandang Maluku adalah suatu kepatutan. Selain sebagai provinsi kepulauan juga terpendam di dalamnya seribu pesona dan beragam adat istiadat, budaya dan 117-130 bahasa lokal dari suku-suku maupun sub-suku yang ada. Meskipun masyarakatnya mencerminkan masyarakat yang multi kultural, tetapi pada dasarnya mempunyai kesamaan nilai budaya yang merupakan modal dasar dari kebersamaan dan persaudaraan guna menciptakan perdamaian, diantaranya adalah Pela Gandong.

Untuk menjaga kelestarian pada waktu-waktu tertentu diadakan
upacara bersama yang disebut Panas Pela. Upacara ini dilakukan
dengan berkumpul selama satu minggu di salah satu negeri untuk
merayakan hubungan, kadang memperbaharui sumpahnya. Upacara Panas Pela diramaikan dengan pertunjukan menyanyi, tarian tradisional dan Makan Patita (makan perdamaian).

Pela Gandong Menyesuaikan Jaman

Tentu sangat naif apabila menjalani adat istiadat Pela Gandong
cara-cara yang digunakan masih tradisional, seperti meminum darah
pemimpin adat. Bagi masyarakat muslim maupun Kristen hal ini
bertentangan dengan ajarannya. Sehingga penyesuaian tanpa
mengurangi makna sakral tersebut akhirnya dilakukan, misalnya
mengganti darah dengan air aren atau air gula merah. Selain itu,
mengedepankan perdamaian yang hakiki merupakan tonggak adat
istiadat dan tolok ukur keberhasilan perdamaian.

*Ditulis oleh Akhmad Batara Parenta Parlindungan
*Editor Achmad Djali
*Diterbitkan oleh Majalah Archipelago Reference Explore, Edisi
09/Februari/2015.

Iklan

27 respons untuk ‘Pela Gandong, Kearifan Lokal Leluhur Maluku

  1. Being sophomore can be cooler! One get so smart fresh
    and interesting. Over the past few days I`ve
    came across small number of areas of Pela Gandong, Kearifan Lokal Leluhur
    Maluku, but ‘m a bit of compared I actually don’t find out what could be.
    Can potentially somebody spot a whole lot more, give
    pleasure to?

    Suka

  2. Hey! Perfect blog! I really like which you reviewed Pela Gandong, Kearifan Lokal Leluhur Maluku.

    This site is incredible! Enormous breakfast with thrilled that I’ve discovered it.

    A lot of articles are intriquing, notable and well crafted .

    I’m a few facts inexperienced with envy since i can’t jot
    virtually you. Writing exercise causes my routine shout as well
    as , pressured because I are forced to submit noticeably
    through today’s content rich system .
    When this happens I normally click here best college paper writing service reviews when I
    am going to have effective reviews and get the reliable scribblingsite

    Suka

  3. My partner and I stumbled over here by a different web page and thought I
    should check things out. I like what I see so now i’m following you.
    Look forward to exploring your web page repeatedly.

    Suka

    • there’s no plugins for avoiding hackers, use security option on your website, use normal security, backup your data on cloud computing, keep healthy and don’t forget to take vacation, cheers 😀

      Suka

  4. I have been exploring for a bit for any high quality articles
    or weblog posts on this kind of house . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this website.
    Studying this information So i am happy to exhibit
    that I have an incredibly excellent uncanny
    feeling I discovered just what I needed. I most indisputably will make sure to
    do not omit this web site and provides it a look on a constant basis.

    Suka

  5. I would like to thank you for the efforts you’ve put in penning this site.
    I really hope to see the same high-grade content from you in the future as well.
    In truth, your creative writing abilities has motivated me to get my
    own site now 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Ni Komang Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.