Kondisi Internasional

Krisis finansial yang dimulai pada 2008 dan juga resesi ekonomi di Eropa, secara signifikan memperbesar angka pengangguran di wilayah itu. 

Eurostat mencatat hampir seperempat (21,8 persen) dari pemuda usia antara 18-25 tahun di Uni Eropa tidak memiliki pekerjaan. Pengangguran dan kemiskinan telah menjadi masalah serius di Uni Eropa dan melunturkan upaya para pemimpin Eropa untuk memerangi korupsi. Pertumbuhan Inggris terhambat mengingat Inggris menggunakan deregulasi dan privatisasi sebagai kebijakan ekonomi, berbeda dengan sebagian besar negara Eropa yang menggunakan kebijakan yang sifatnya intervensi.

Kemenangan Partai Republik dengan Presiden Donald Trump dianggap jawaban bagi Rakyat Amerika Serikat untuk keluar dari krisis. Yang membedakan Trump dari para konservatif pasar-bebas tradisional adalah fokusnya pada “penarikan” perjanjian dagang internasional dan praktik-praktik curang yang dilakukan mitra dagang terhadap perusahaan-perusahaan itu. Mengurangi “penarikan” adalah bagian paling penting dari agenda ekonomi Trump. Ini membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk menarik diri dari WTO, badan yang mengatur globalisasi, untuk memaksa WTO agar mengubah aturan pajak sehingga dapat menguntungkan AS melalui “perjanjian yang lebih adil”.

Serbuan produk murah dari Asia dan Eropa Timur semakin membawa pada keterpurukan ekonomi, pertahanan ekonomi Amerika Serikat saat ini adalah dengan mengandalkan pada sektor pertanian. Trade Balance tersebut telah mengubah transaksi perdagangan Amerika yang tadinya sangat superior dalam bidang High Tech dan Industri telah bergeser menjadi produk pertanian. 

Kawasan Asia 
Geliat perekonomian China dengan mengandalkan pada Purchasing Power dalam negeri yang tinggi dan subsidi industri membuatnya menjadi Negara pengekspor yang sangat diperhitungkan dan bahkan mengakibatkan “demam” krisis ekonomi berkepanjangan di Eropa Barat dan kemudian merambah hingga Amerika Serikat. 

India mampu bangkit dari keterpurukan tahun 1990 dan mampu maju dan memperbaiki perekonomiannya dengan sangat menyakinkan. Perdana Menteri pada saat itu mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk melonggarkan industri dan usaha, membatasi impor dan membuat sejumlah reformasi sktruktural lagi dan tujuan demi mendorong ekspor menjadi lebih baik. Bahkan kedepan banyak yang meramalkan India dan China akan menjadi kekuatan besar di dunia yang mampu menggeser posisi Amerika Serikat dan Eropa dalam kancah perekonomian global. 

ASEAN 

Tahun 1996 beberapa perjanjian dalam rangka melakukan Industrialisasi Negara-negara di Asean dengan sistem perdagangan antar anggota semakin meningkat. Thailand di plot sebagai Negara industri untuk mesin pertanian dan sepeda motor, Malaysia dengan industri otomotif dan Indonesia dengan Industri pesawat terbang dan kapal terlihat akan sangat menjanjikan untuk menjadi Macan Asia mengingat Negara-negara tersebut sudah memiliki rancang bangun untuk industry masing-masing dibangun dengan seratus persen sumber daya Negara masing-masing. Krisis kawasan yang terjadi kemudian menghancurkan desain tersebut, ASEAN sendiri kemudian didorong menjadi lebih terbuka. 
Perubahan Pendulum Kapitalisme dan Indonesia 

Sejak Pemerintahan SBY Infrastruktur didorong untuk memberikan nilai tambah peningkatan penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Bahkan dalam dua tahun pemerintahan Jokowi pembangunan infrastruktur bahkan menjadi struktur utama pertumbuhan ekonomi. Pada sisi lain pengurangan daftar negatif impor semakin diperluas yang diharapkan akan memberikan meningkatkan angka indikator neraca transaksi berjalan Indonesia. Sebuah analisa awal dapat kita simpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sedang dalam tahap membangun Industri ataupun kemampuan ekspor Non Migas. 

Adanya indikasi perubahan pendulum kapitalisme, dimana bertarung konsep perkembangan dari Neoliberalisme yang tidak mampu menjawab “krisis dunia”. 

Terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi: 

1. Amerika Serikat dan Britania Raya mampu mengatasi krisis dalam negaranya dan meningkatkan purchasing power dalam negerinya dan meninggalkan Negara-negara krisis dalam kebangkrutan

2. Munculnya gerakan separatis baik berdasarkan Ras maupun Agama dari Negara yang mengalami krisis dan meningkatnya aksi terror sebagai dampak dari gagalnya perbaikan perekonomian. 

3. Berkolaborasinya Negara superior seperti Britania Raya, Rusia, Prancis dan Amerika Serikat untuk kemudian meningkatkan permintaan / konsumsi. 

4. Memaksa Negara-negara kaya sumber daya alam ataupun kuat perekonomiannya untuk menjadi tempat penyaluran capital. 

Demam politik di Indonesia adalah gejala awal saja dari pertarungan tersebut, kasus Pilkada DKI Jakarta dan wacana pengangkatan Setya Novanto merupakan tanda awal dari guncangan-guncangan yang akan menyusul kemudian. Wacana super holding BUMN juga tidak boleh luput dari perhatian karena akan menjadi pintu masuk kepentingan luar dibanding kepentingan dalam negeri keluar. Kemungkinan munculnya Don-Don baru yang lebih jinak terhadap Negara “penyumbang” dalam transaksi politik Indonesia semakin didepan mata pada tahun 2017.

Dari berbagai uraian situasi tersebut, kami anak bangsa yang bersatu dalam nama komunitas 98 Indonesia, memahami betul ancaman yang sangat membahayakan kedaulatan rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka kami komunitas 98 Indonesia mengecam : 

1. Sistem kekuasaan modal (kapitalisme) yang ingin menjarah kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia. 

2. Dominasi modal asing dan pekerja asing yang mengekspansi dan mengeksploitasi Indonesia.

3. Kepada siapapun pihak yang dengan sengaja memberikan segala bentuk pernyataan yang melukai perasaan bangsa Indonesia yang bermacam suku, agama dan ras dalam persatuan utuh semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangwra.

Komunitas 98 INDONESIA menolak Liberalisasi dan Anarkisme Demokrasi
Kami tidak akan tinggal diam membiarkan para pelaksana sistem kekuasaan modal menjarah kekayaan bumi dan manusia Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan rakyat secara penuh dengan membangun ekonomi nasional yang BERDIKARI. (Lin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.