Saudaraku, demokrasi tanpa kepemimpinan hanya melahirkan gerombolan. Dalam gerombolan, kepentingan warga negara mudah menjelma menjadi anarki. Kekerasan, pemaksaan, dan pelanggaran pun tak terelakkan. 

Tidaklah sama, antara pemerintahan otoriter dan pemerintahan otoritatif. Demokrasi bermaksud membasmi yang pertama, tetapi tak bisa tegak tanpa kedua. Kenyataan kini, aneka peraturan dan pembangunan tak jalan karena lemahnya otoritas kepemimpinan atas gerombolan.

Demokrasi menghendaki kepemimpinan oleh banyak orang. Proses perekrutannya tak bisa mengandalkan pada keturunan seperti dalam aristokrasi; tidak juga pada kekayaan bawaan seperti dalam plutokrasi; tetapi harus berjejak pada prestasi (merit) warga negara di segala bidang. Dengan kata lain, demokrasi menghendaki kepemimpinan berdasarkan meritokrasi.

Meritokrasi merupakan solusi atas nepotisme, kelembaman kepemimpinan serta daya saing bangsa. Demokrasi tanpa meritokrasi membuat kepemimpinan tercengkeram orang-orang yang mau meski tak mampu.

Tentang perjuangan menegakkan meritokrasi, Inggris memberi contoh terbaik. Hingga abad ke-18, Inggris terkenal sebagai rumah nepotisme. Sebagai negeri yang tidak pernah dijajah, tidak pernah sepenuhnya kalah dalam perang, dan tidak pernah diguncang revolusi politik, Inggris tak pernah berjeda untuk membuat awalan segar. Akibat ketiadaan “gangguan” ini membuat masyarakat Inggris tetap bermental pedesaan jauh setelah 80 persen penduduknya tinggal di kota. Dalam mental perdesaan inilah feodalisme bertahan, bersekutu dengan nepotisme.

Beruntung, Inggris segera mendapat tekanan dari luar dan dalam. Tekanan dari luar datang dari persaingan dan perseteruan internasional. Peperangan antarbangsa, sebagai perwujudan sempurna kompetisi internasional, ternyata memberi desakan kuat bagi keharusan menghargai merit. Perang bukan saja mendorong penemuan teknologi, tetapi juga merangsang penggunaan sumber daya manusia secara lebih baik. Sejak Perang Dunia I, tes IQ diberlakukan guna merekrut personel-personel ketentaraan. Tantangan ini pada gilirannya mendorong reformasi di bidang pendidikan.

Dari dalam, tekanan muncul dari menguatnya aspirasi-aspirasi sosialis yang melancarkan serangan terhadap segala jenis pengaruh keluarga terhadap dunia kerja. Aspirasi sosialis mempercepat tumbuhnya organisasi berskala besar yang mendorong promosi atas dasar merit. Mereka juga menuntut kesetaraan lebih besar dalam akses ke dunia pendidikan. Akhirnya, dalam melawan kepemimpinan konservatif, kaum sosialis mengidentifikasi kesetaraan dengan perluasan meritokrasi.

Pengalaman Inggris memberi pelajaran penting bagi kita. Nepotisme bisa tergerus jika bangsa memiliki competitive spirit dengan negara lain. Semangat berkompetisi bisa tumbuh jika kecenderungan inward looking berubah menjadi outward looking. Daya-daya juang tidak diorientasikan untuk “bertikai” di dalam, tetapi diarahkan untuk menandingi “pesaing” dari luar. Tidak adanya competitive spirit melemahkan dorongan untuk mengerahkan talenta-talenta terbaik bangsa, dan para pemimpin medioker yang tampil tak memiliki sense of crisis.

Sementara kita terus bertikai di dalam, sumber kekayaan kita terus dicuri dan dijarah orang luar tanpa penjagaan. Pada saat globalisasi dan perwujudan era perdagangan bebas mulai menebarkan ancaman, Indonesia tak memiliki kesiapan untuk bersaing. Hasil survei World Competitiveness Report oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) dalam beberapa tahun terakhir menempatkan Indonesia rata-rata di urutan rendah dalam Growth Competitiveness Index/GCI) dan dalam Current Competitiveness Index/CCI).

Pengalaman Inggris mengisyaratkan pergeseran dari nepotisme ke meritokrasi memerlukan perjuangan kuasa. Ide-ide sosialistik tetap dibutuhkan sebagai pendobrak ketimpangan masyarakat yang ditimbulkan keturunan maupun kepemilikan. Perjuangan ini harus dimulai sejak dini, dalam akses orang terhadap dunia pendidikan. Seperti kata Pierre Bourdieu, pendidikan memberikan bukan sekadar skemata bagi perbedaan kelas dan prinsip fundamental bagi pemapanan tertib sosial, tetapi juga menjadi katalis bagi perjuangan kuasa yang kompetitif.

Pendidikan berorientasi meritokrasi harus menghilangkan diskriminasi manusia berdasar jenis intelegensia tertentu—yang membuat orang dengan intelegensia lain dianggap sampah masyarakat.

Demokrasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman intelegensia manusia (linguistik, logik-matematik, spasial, musik, kinestetik, interpersonal dan intrapersonal) sehingga bisa melahirkan calon pemimpin dengan merit dan karakter tangguh. Manusia berkarakter adalah yang memiliki keunggulan khas, dapat diandalkan, dan memiliki daya tahan dalam kesulitan dan persaingan.

Jalan menuju demokrasi telah ditempuh dengan ongkos mahal. Terlalu sia-sia jika yang muncul hanya gerombolan. Kepemimpinan harus ditegakkan di segala lini dengan memulihkan otoritas berbasis meritokrasi.

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

Iklan

22 respons untuk ‘Demokrasi Meritokrasi

  1. Do you have a spam problem on this site; I also am a blogger, and
    I was wanting to know your situation; we have created
    some nice practices and we are looking to swap solutions with other folks, be sure to shoot me an e-mail if interested.

    Suka

    • don’t bother about the spam, there’s a different perspective in every country about a spam, take a good notice on comment and you will be fine, keep healthy and don’t forget to take a vacation, cheers 😀

      Suka

  2. You really make it seem really easy along with your presentation but I in finding this matter to be really something which I feel I might never understand.
    It kind of feels too complex and very broad for me.
    I’m taking a look ahead for your subsequent publish, I will attempt to get the grasp of it!

    Suka

  3. It’s ɑppropriate time to maкe a few plans for the longer term ɑnd it is
    tіmе to bе haрpy. І’ve read this submit and if I may Ι wіsh tο counsel үou few fascinating isswues
    օr tips. Maybe yⲟu ϲan ᴡrite next articles referring t᧐ this article.

    I want to learn еven more issues aƄout іt!

    Suka

  4. Great work! That is the kind of information that are meant to be shared across the internet.

    Disgrace on Google for no longer positioning this publish higher!
    Come on over and talk over with my website . Thank you
    =)

    Suka

  5. Awesome blog you have here but I was curious about if you knew of any
    community forums that cover the same topics discussed in this article?
    I’d really love to be a part of online community where I can get feedback from other knowledgeable individuals that share the
    same interest. If you have any recommendations, please let me know.
    Cheers!

    Suka

  6. Greetings I am so delighted I found your blog, I
    really found you by error, while I was browsing on Askjeeve for something else,
    Anyways I am here now and would just like to say kudos for a
    fantastic post and a all round thrilling blog (I also love the theme/design), I don’t have time to browse it all at the minute but I have
    saved it and also added your RSS feeds, so when I have time I will be
    back to read a great deal more, Please do keep up the superb job.

    Suka

  7. This is the perfect website for everyone who would like to find out about this topic. You know so much its almost tough to argue with you (not that I really would want to…HaHa). You certainly put a fresh spin on a subject that has been discussed for a long time. Wonderful stuff, just excellent!|

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.