Sedulur, ketika kita membahas tentang makna kemerdekaan, maka kita bangsa Indonesia memaknainya dengan tiga faktor penentu yang termaktub dalam Trisakti, yakni Kedaulatan di Bidang Politik, Kemandirian di Bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Berbudaya. Sejauh mata memandang, sejauh kaki menjejakan langkahnya dan sekuat jemari terkepal untuk melawan segala bentuk penindasan yang bertentangan dengan cita – cita negeri kita merdeka. Hingga kita bangsa Indonesia telah sampai pada hari dimana pintu gerbang kemerdekaan terbuka dan mencapai arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemudian kitapun sampai pada beberapa pertanyaan dibenak kita, Apakah yang disebut dengan kemerdekaan yang sejati? Apakah menjadi bangsa yang kaya raya merupakan kemerdekaan yang sesungguhnya? Apakah menjadi bangsa yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah kesejahteraan dan kemakmuran? Apakah menjadi bangsa yang begitu dominan di dunia menjadi arah tujuan bangsa kita?

Mari kita menghela nafas sejenak dan menghirup segarnya aroma pagi dipinggiran ibukota untuk berhenti sebentar dan menoleh ke belakang untuk meneropong ke depan. Mari kita merefleksikan sejenak langkah – langkah yang telah kita tempuh untuk mencapai kemerdekaan dan mari kita torehkan sejenak sebuah kehendak atas kemerdekaan yang sesungguhnya. Agar kita tidak lupa dan agar kita terjaga serta waspada dengan arah tujuan bangsa kita dimasa yang akan datang. Agar kita tidak terlena dengan berbagai kemajuan yang secara kasat mata gamblang dihadapan kita semua bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari anak bangsa Indonesia, kita perlu juga untuk mengisi lubang – lubang kekosongan yang tersilap dari para pemimpin bangsa Indonesia dan perlu juga untuk saling mengingatkan dalam doa, saling membantu dalam kerja dan saling asah asih serta asuh untuk menjaga perdamaian di bumi pertiwi Indonesia.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para founding fathers Republik Indonesia, perkenankan kita untuk mengulas tentang Trisakti dan relevansinya dimasa depan. Agar menjadi sebuah pedoman bagi kita dalam menempuh kehidupan berbangsa dan bernegara yang akan kita paparkan sebagai berikut :

1. Kedaulatan di Bidang Politik dan Relevansinya dalam Tatanan Dunia Baru serta Dampaknya ke dalam Negeri.

Bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaannya telah diingatkan untuk menjaga kedaulatannya diberbagai lini kehidupan. Beberapa diinterpretasikan dalam bentuk kedaulatan pertahanan keamanan, beberapa diantaranya dimaknakan sebagai bentuk kedaulatan diplomasi dan beberapa diantaranya diartikan dalam bentuk kedaulatan dalam bentuk otoritas pemerintahan. Kita tidak ingin kritisi beberapa pemaknaan tersebut, tetapi perlu diinsyafi bersama bahwa Kedaulatan Bangsa Indonesia terletak dalam sikap dan tindakan kita dalam berbangsa dan bernegara. Perlu diketahui juga bahwa sikap bangsa Indonesia dalam mengatasi krisis kemanusiaan dunia merupakan bagian dari peranan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Tentunya Kedaulatan di Bidang Politik baik didalam maupun diluar negeri menghantarkan kita kepada positioning keberpihakan terhadap poros politik dunia, sebagai bangsa dan negara yang menganut politik bebas aktif tentunya pada maping tatanan masyarakat kita akan di plot untuk berada di poros tertentu, meskipun secara subyektif kita menganggap bahwa bangsa dan negara kita tidak berpihak kecuali kepada perdamaian yang abadi sesuai falsafah bangsa kita yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Keberpihakan kita kepada perdamaian yang abadi inilah menjadi nilai yang dipikul dan memikul natur kita ke dalam dan luar negeri, sehingga ketika kita berperan bagi dunia, Kedaulatan bangsa kita tetap terjaga dan dampaknya ke dalam negeri tidak menjadi bangsa boneka.

Peranan bangsa kita pada tatanan masyarakat global menjadi penting untuk dilakukan terobosan, tetapi menjadi sulit ketika didalam negeri bangsa kita tidak solid. Agar bangsa kita memiliki kemerdekaan yang sesungguhnya maka oleh sebab itu bangsa Indonesia harus berdaulat dibanyak bidang. Sebagai contoh yang paling mutakhir adalah keberpihakan bangsa kita terhadap krisis Arab Spring dan dampak terorisme yang mengemuka di tanah air. Ketetapan bangsa Indonesia atas krisis tersebut tegas dan lugas selama 15 tahun terakhir ini, baik oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo, memilih untuk mengirim pasukan perdamaian daripada memilih untuk mengirim pasukan tempur yang berpihak kepada salah satu komponen konflik. Sikap ini patut diacungi jempol tetapi ada beberapa kritisi yang mengemuka, bahwa bangsa kita yang sudah memiliki integritas di mata dunia, keuntungan ini hanya diperuntukan untuk kemudahan mengambil pinjaman uang sehingga memunculkan sentimen lemah dibanding melakukan upaya membentuk kekuatan perdamaian untuk memastikan agar perdamaian abadi tercipta. Yang kemudian menghantarkan kita kepada nilai Trisakti yang kedua, yakni Kemandirian di Bidang Ekonomi.

2. Kemandirian di Bidang Ekonomi dan Relevansinya dengan Kemakmuran dan Keadilan di seluruh Penjuru Negeri serta Mendorong Kemajuan Ekonomi bagi Bangsa – Bangsa di Dunia.

Memang tidak pernah mudah menjadi bangsa Indonesia, karena selamanya kita terikat dalam falsafah kebangsaan Kemakmuran dan Keadilan, Kemerdekaan, dan Perdamaian bagi seluruh dunia. Tentunya falsafah ini tidak bertujuan untuk menjadikan bangsa kita menjadi superior dan dominasi di seluruh dunia, tetapi lebih kepada kearifan bangsa Indonesia dalam melakukan segala bentuk kemaslahatan di seluruh penjuru bumi. Bagi bangsa Indonesia tak ada yang lebih penting dari menjalankan kerja – kerja kemaslahatan bagi bangsanya dan bagi dunia. Sehingga dipandang perlu untuk selalu mengupayakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dan menjadi inspirasi bagi bangsa – bangsa yang tertinggal.

Kini pembangunan infrastruktur untuk menjadi modal bagi kebangkitan ekonomi bangsa Indonesia sedang digairahkan di seluruh penjuru nusantara. Ketahanan energi dan pangan juga menjadi bagian dari resolusi pemerintah Indonesia di setiap kesempatan. Yang menjadi keprihatinan bersama adalah semua itu bermodalkan utang luar negeri, sangat disayangkan ketika bangsa Indonesia membutuhkan solusi cepat untuk pembangunan, wajah negeri kita selalu saja mengarah kepada utang negara. Sesungguhnya hal ini tidak perlu terjadi kalau saja integritas bangsa Indonesia didukung didalam negeri dengan membuat Surat Berharga Negara yang dihimpun dari rakyatnya sendiri, sehingga ketika ingin melakukan pembangunan, rakyat turut merasa memiliki hasilnya. Ekslusivitas ekonomi di Indonesia menjadi penghalang bagi rakyatnya untuk berperanserta dalam pembangunan, hal ini sesungguhnya tidak perlu terjadi apabila negara dan rakyat bahu membahu dalam pembangunan.

Ketika masuk ke bidang ekonomi muncul sifat sosial yang laten di masyarakat, sifat individualis dan mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan Kemandirian di Bidang Ekonomi adalah sebuah sifat kebangsaan yang kolektif diberbagai bidang. Pemerintah lebih menitikberatkan kerjasama ekonomi dengan pihak luar negeri sebagai jalan pintas, investasi menjadi pokok penting di tanah air Indonesia, yang pada jangka panjang akan membuat bangsa Indonesia kehilangan kedaulatannya ketika selalu saja mengupayakan kelayakan investasi sebagai poros ekonomi.

Sesungguhnya bangsa Indonesia sangat akrab dengan ekonomi kerakyatan dengan berbagai bentuk enclave masyarakat yang membentuk koperasi di banyak bidang untuk memberdayakan ekonominya. Rakyat Indonesia terbiasa memiliki Koperasi Unit Desa, rakyat Indonesia terbiasa memiliki Koperasi Karyawan, rakyat Indonesia terbiasa memiliki Koperasi Nelayan, rakyat Indonesia terbiasa memiliki Koperasi lainnya diberbagai bidang, yang sayangnya tidak dijadikan pondasi ekonomi negara dan digenjot potensi ekonominya untuk kepentingan ekonomi yang lebih besar dalam berbangsa dan bernegara. Pemerintah lebih percaya perbankan dibandingkan dengan Koperasi, sementara menyentuh Koperasi dianggap sebagai mengusik peran dan fungsi kemasyarakatan bangsa Indonesia, sementara rakyat juga butuh tahu kesulitan yang dihadapi negaranya, agar secara tanggung renteng bisa memberikan solusi. Berjaraknya negara dengan rakyatnya di bidang ekonomi ini menghantarkan kita kepada ulasan Trisakti yang berikutnya, yakni Berkepribadian dalam Berbudaya.

3. Berkepribadian dalam Berbudaya dan Relevansinya dengan Ambiguitas Negara terhadap Rakyatnya.

Menjadi Indonesia itu merupakan sebuah anugerah yang tiada duanya bagi bangsa Indonesia, keelokan alam nusantara, keindahan ragam etnis dan kearifan budaya dalam menjalani berbagai sendi – sendi kehidupan. Sayangnya sikap negara terhadap keragaman etnis dan budaya ini sebagai sebuah entitas masyarakat yang dianggap ekslusif. Sebaliknya justru ragam budaya yang ada di Indonesia perlu muncul ke permukaan. Oleh negara keragaman budaya ini dipersempit dengan pemahaman bahwa budaya tidak boleh lebur dengan kemajuan jaman, sementara masa depan harus mengenal Indonesia secara utuh, baik ragam etnis, suku dan bahasanya.

Keberpihakan politik dan kelemahan dalam berekonomi di Indonesia mengurung budaya Indonesia terkukung dalam sekat – sekat tradisionalisme dan adat istiadat yang semu dan seremonial. Sementara sesungguhnya budaya Indonesia adalah sebuah entitas kebangsaan yang tidak boleh terpisah dari entitas negaranya. Sikap ekslusif negara terhadap etnis, suku dan adat istiadat ini mesti lebur dalam kehendak kebangsaan yang sama, yakni menjadi merdeka, menjadi berdaulat, menjadi adil dan menjadi makmur. Keprihatinan yang mengemuka adalah ragam budaya Indonesia mulai dilibatkan ketika modal investasi masuk yang kemudian menggedor kesadaran tradisionalisme rakyat dengan modernitas.

Yang ingin ditekankan dalam ulasan ini adalah bangsa Indonesia dapat maju di segala bidang tanpa harus meninggalkan identitas kebudayaannya. Bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang besar tanpa harus mengaduk – aduk adat istiadatnya. Bangsa Indonesia dapat menjadi lightning star bagi dunia ketika menjadi bangsa yang maju dengan keragaman entitas kebudayaannya dan bangsa Indonesia harus terbuka dengan keragaman yang budaya nenek moyangnya sendiri. Karena bangsa Indonesia adalah anak kandung dari Rahim ibu pertiwi maka segala keragaman budaya dan alam Indonesia adalah keluarga bagi kita semua.

Trisakti merupakan saripati nilai yang menjadi landasan kerja kemaslahatan bangsa Indonesia. Menjadi alat ukur bagi bangsa kita untuk menoleh ke belakang dan meneropong ke depan. Perlu diinsyafi bersama bahwa Trisakti menjaga kita dari lajunya roda jaman yang menggedor kesadaran kebangsaan, kerakyatan dan kebangsaan bangsa Indonesia. Sehingga roda kenegaraan kita memiliki pedoman dalam melakukan kerja – kerja kemaslahatan untuk terciptanya bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Merdeka!!!

*naskah diterbitkan pula di rahmathamka.com dengan tajuk yang sama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.