Yusuf Blegur, Aktivis FKSMJ 98

Yusuf Blegur, Aktivis FKSMJ 98

Sejatinya, pengejawantahan nilai-nilai pancasila sejak lama sudah harus menjadi perilaku yang terus menerus dan pola kebiasaan dalam praktek-praktek penyelengaraan kekuasaan negara baik oleh pemerintah maupun elit lainnya yang mempengaruhi dan berdampak pada kehidupan publik. Rakyat cenderung memberikan apresiasi dengan mengikuti dan meneladani semua produk kebijakan aparatur penyelengara negara yang dirasakan berpijak pada hukum moral dan politik pancasila.

Dalam situasi yang seperti itu warga bangsa sebenarnya sudah tidak lagi membutuhkan dan bahkan menjadi tidak efektif diberikan sosialisasi dan pencerahan dalam bentuk konvensional seperti semimar dan ceramah-ceramah serta kuliah umum lainnya, apalagi “dipaksa” untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan konvensional penyerapan nilai yang terkandung dalam pancasila. Spirit pancasila harusnya menjadi lebih progressif dalam kebudayaan, dari nilai menjadi tata krama, pada adab atau akhlakul karimah.

Harmoni implementasi pancasila pada kehidupan berbangsa dan bernegara secara substansi sesungguhnya adalah terletak pada persoalan kepercayaan dan keyakinan masyarakat pada pemimpinnya. Benarkah para pejabat negara, elit politik, tokoh agama dan para cendekia, secara jujur dan bersungguh-sungguh mengamalkan pancasila?

Karena, selain lahir dari rahim kultur dan naturnya kebudayaan rakyat, pranata sosial dan tradisi yang menjadi peradaban, lalu bertransformasi pada nilai dan hukum moral masyarakat yang sudah ada sejak sebelum indonesia merdeka, dan pancasila itu sendiri digali kemudian diformalkan sebagai dasar negara dan falsafah bangsa. Disini menjadi menarik ialah, atas dasar itu rakyatlah yang sesungguhnya mengajarkan hakekat dan filosofis pancasila pada para petinggi dan kaum elit itu, bukan sebaliknya dengan otoritas kekuasaan wakil rakyat itu malah menggurui dan mendikte rakyat.

Sejarah mencatat para pendiri bangsa begitu sangat dikagumi dan diikuti apa yang keluar dari mulut dan tindakan mereka, karena rakyat begitu percaya dan yakin pada perjuangan yang membawa nasib rakyat kedepan. Jangankan menerima pancasila, menyerahkan jiwa dan nyawa, rakyat bersiap dengan gegap-gempita dan patriotik untuk mengikuti pemimpin berjuang demi negara bangsa ini, pada saat itu. Hal demikianlah yang membedakan bagaimana pancasila dilaksanakan, bukan sekedar alat persatuan dan kesatuan, lebih dari itu pancasila ditempatkan juga sebagai warisan sekaligus anugerah yang tak ternilai bagi bangsa ini. Kehidupan kebangsaan kita telah melekat dalam pancasila, tak terpisahkan seperti raga dan jiwa.

Akhirnya semua sejarah dan nilai itu runtuh, kini pancasila berjarak lebar dengan rakyat, bagai terpisahkan. Bukan karena tidak mau dan tidak mampu mewujudkan nilai-nilai pancasila, tapi merupakan bentuk protes dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya. Petinggi dan kaum elit itu telah memelintir dan mendistorsi pancasila. Bagaimana praktek-praktek penyelenggaraan negara justru mengangkangi nilai-nilai pancasila secara terbuka dan bangga pada klaim pengamalan semunya.

Kebijakan birokrasi negara telah membunuh pancasila dengan menumbuhkan kehidupan kapitalisme dan imperialisme modern. Tanpa reserve ekspansi kolonialisme, perlahan dan pasti telah menggusur peran pancasila. lihatlah di setiap tempat di sudut-sudut negara, kemanusiaan dan keadilan sosial begitu mudahnya dibeli, hukum dan politik menjadi tabungan para pemilik modal, demokratisasi yang liberal dan dibentuk dengan material begitu hingar bingarnya menikam keluhuran permusyawarahan permufakatan kita, lebih sadis lagi sering terjadi pemerkosaan dan perampokan dan pemerkosaaan pada negara, dan masih banyak lagi yang nyaris tak terhitung kesakitan pancasila. Ironisnya, semua dipertontonkan secara telanjang bulat dihadapan seluruh elemen bangsa, menonton bareng dengan hiburan menyaksikan pancasila dalam sakaratul maut.

Menyelamatkan pancasila adalah menyelamatkan rakyat dan negara bangsa ini, dan mandatnya adalah kepemimpinan. Pemimpin yang memegang amanah dan kepercayaan rakyatnya. Pancasila bukan berada di dinding-dinding perkantoran dan gedung, bukan di tembok sekolah, atau dalam gambar dan bingkai yang berserakan. Pancasila harusnya berada direlung hati sanubari dan ruang kesadaran, khususnya para pemimpin yang mulai berkurang kehormatannya. Merdeka!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.