Oleh : Yusuf Blegur, Aktivis FKSMJ 98

Panggung politik nasional semakin atraktif menunjukkan pementasannya. Berbagai karakter dan peran seolah berlomba menampilkan kepiawaian akting, guna menarik perhatian penonton sembari menyampaikan pesan-pesan tertentu. Seperti panggung seni pertunjukan yang sebenarnya, sayangnya peran sandiwara politik yang dilakonkan, ibarat sebuah dagelan, tontonannya menjadi tidak menarik bahkan sangat membosankan. Alur ceritanya mudah ditebak, tidak ada tokoh dengan permainan watak yang kuat, hingga skeptis pada akhir cerita yang tidak mencapai klimaks, benar-benar membuat pementasan panggung yang tak ubahnya seperti dagelan yang seolah-olah dipaksakan menjadi drama mencekam.

Publik enggan tertawa meskipun dianggap kelucuan, tapi publik juga sulit mencoba serius karena peran improvisasinya tak melarutkan pikiran dan akal sehat. Begitulah gambaran skenario yang dilakonkan para pelaku politik dan elit kekuasaan, entah kreatifitas atau kebuntuan atau bahkan kedunguan. Seperti naskah yang tidak layak, dan pantas masuk keranjang sampah tapi dimodifikasi dengan sentuhan biaya besar. Tapi tetap pada akhirnya, parade betingkah itu tak kunjung menghibur, apalagi membahagiakan publik ( rakyat ).

Eksponen 98 Dalam Pusaran Moral dan Gerakan Politik Eksponen 98 Dalam Pusaran Moral dan Gerakan Politik.

Peristiwa transisi kekuasaan pemerintahan yang diwarnai gerakan mahasiswa di era 1998 silam itu, lambat laun seiring waktu telah menuai hijrahnya aktifis pelaku sejarah itu ke dalam panggung politik kekuasaan yang dulunya adalah tempat refleksi gugatan moral di samping pengembaraan pencarian ilmu dan pertumbuhan daya kritis. Kala itu, kampus tak henti-hentinya seperti mata elang yang tajam menyorot setiap nadi rezim kekuasaan.

Kini, seakan siklus sejarah berputar. Kiprah sejarah gerakan mahasiswa yang terjuluki eksponen 98, itu menyeruak dengan susah payah dan tertatih-tatih ikut terlibat dalam pengambil kebijakan dan pemangku jabatan. Tidak sedikit eksponen 98 yang terdistribusi dalam lingkar kekuasaan baik dalam jajaran eksekutif maupun legislatif. Mereka kini populer, banyak uang dan punya jabatan. Kebiasaan sebagai demonstran kini beralih fungsi merumuskan dan melahirkan kebijakan yang menentukan hajat hidup banyak orang. Kekuatan moral itu telah bermetamorfosis, dari penggugat kini menjadi yang digugat. Gelombang tuntutan peran dan kinerja yang dulunya disuarakan ke rezim pengusa, tanpa bertele-tele kini menerpa mereka.

Sayangnya walau telah menjadi bagian dari pemerintahan berkuasa, politisi anyar yang berbekal kekuatan moral itu, bukanlah pemegang kebijakan utama dan penguasa pucuk yang menentukan dan memutuskan setiap masalah negara dan persoalan kebangsaan. Kenyataannya, tokoh aktifis 98, belum ada yang menjadi Presiden. Meminjam istilah seorang kawan, jebolan aktifis 98 paling banter sekedar irisan dan serpihan kue-kue kecil kekuasaan, kalau tidak disebut sebagai sekrup-sekrup kapitalisme-karena negara dalam mainstream kapitalisme internasional.

Oleh karena itu, kegamangan dan kebuntuan gerakan sering melanda alumni 98 meski telah menjadi bagian elit politik. Di atas masih menggantung dibawah tidak berpijak, seperti menjadi makanan empuk dinasti dan imperium partai politik. Seakan tidak pernah berhenti dari gerakan 20 tahun yang lalu, elit aktifis 98 itu masih terbelit pada persoalan mencari “posisioning” seperti masih merasa berada di luar kekuasaan dan menjadi marginal. Entahlah, menyiapkan diri pada kehangatan kekuasaan yang lebih empuk seperti mau menghadapi musim dingin. Kasak-kusuk menggunakan berbagai instrumen dan gerakan berbalut intelektual dan politik kenegaraan. Jadinya, seperti amatiran yang memungut mukanya yang tercecer entah kemana. Mereka tak ubahnya seperti politisi konvensional lainnya yang duduk di singgasana karena warisan leluhur ataupun harta benda yang menjuntai. Termasuk mereparasi moralnya menjadi tampilan dan wajah politik.

Ambigu Nafsu Politik

Begitu memprihatinkan dan alangkah naifnya, melihat sepak terjang politisi dan birokrat muda yang pernah mengenyam pahit getirnya mengantar reformasi. Ketika masuk dalam struktur kekuasaan baik di badan legislasi maupun jabatan-jabatan strategis lainnya, belum menghasilkan secara signifikan apa yang menjadi tuntutan reformasi itu sendiri. Kini mereka terjebak pada formalitas dan normatif birokrasi. Belum mampu melahirkan dan membebaskan Undang-Undang yang secara substansial sebagai konstitusi yang tercerahkan dari rakyat yang progessif revolusioner.

Memberikan kedaulatan yang mutlak pada negara dalam pembangunan sumber daya manusia, kemerdekaan dalam memiliki dan mengelola sumber daya alam, kebijakan ekonomi bermartabat sebagai bangsa, yang berbasis kemanusiaan dan berkeadilan sosial, menentukan dan menciptakan pola hubungan internasional yang egaliter dan saling menghormati saling menghargai, dan lain lain. Alih-alih mengimplementasikan itu, kawan-kawan seperjuangan reformasi itu sibuk dan menghabiskan waktu konsolidasi dari pemilu ke pemilu. Menyiapkan strategi masuk dan atau mempertahankan setiap transisi kekuasaan berikut di hadapannya.

Menjadi urgens dan seksi jika bicara strategis dukung mendukung atau jegal menjegal kekuasaan atau berdasar sudut pandang berada dimana sikap politiknya ditentukan. Kesungguhan meneruskan cita-cita proklamasi dan mewujudkan masyarakat adil makmur itu, seperti mencari jarum yang jatuh di jerami. Jangankan menentang kolonialisme dan imperialisme modern. Kawan-kawan eksponen 98 yang politisi parlente itu merasakan nikmatnya menghirup udara kapitalisme yang mewabah di negerinya. Tak ubahnya penikmat kesenangan yang khu’su menghitung-hitung gaji dan tunjangan di dpr, komisaris dan direksi bumn, anggota-anggota komisioner dan berbagai lepehan dan air liur kapital.

Lucunya di tengah-tengah carut-marutnya dan kerisauan besar terhadap eksistensi negara, sebagian eksponen 98 yang sudah jadi “abdi dalem” penguasa negara mencoba menggulirkan perhelatan perkumpulan aktifis 98, menghadapi issu-issu yang sesungguhnya ‘debatable’, polemik dan belum pernah diserap sebagai issu bersama secara nasional yang jelas hitam puitihnya, definisinya, apalagi tekstual dan kontekstualnya. Kenapa persoalan hutang negara yang menjadi warisan terbesar negara pada rakyatnya tidak mengemuka?, kenapa stagnasi ekonomi hingga ‘kolaps’ yang merata sampai pada lapisan bawah masyarakat dianggap tidak penting?, kenapa masuknya banjir investasi dan ketergantungan pada asing yang tinggi terasa diabaikan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mengilustrasikan potensi kemunduran dan keterpurukan bangsa.

Lagi pula, kalau hanya sekedar mengumpulkan aktifis ( eksponen 98 ), hanya untuk stretching issue tertentu, buat apa tangan, mulut dan pena yang dilindungi dan dilegalkan konstitusi bisa mengeksekusi kebijakan bahkan yang paling fundamental sekalipun? Bukankah mereka kini sudah ada di lembaga yang punya otoritas terhormat itu? Manfaatkan kewenangan itu, tunaikan amanah itu buktikan kalau eksponen 98 progressif reformis, jangan kembali ke jalanan Bung! Apalagi sampai menggelar etalase pernak-pernik. Ayo ambil kembali kehormatan yang hilang! Merdeka!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.