Sedulur, mahasiswa Indonesia sepanjang sejarahnya merupakan avant garde (ujung tombak) dari kemerdekaan Republik Indonesia. Penting untuk dipahami oleh generasi muda yang adalah mahasiswa di masa kini untuk mengetahui perannya di tengah – tengah masyarakat. Mahasiswa adalah golongan masyarakat intelektual yang mengedepankan nalar dan cara berpikir kritis dalam menyikapi beragam problema kemasyarakatan di sekitarnya. Bagi Indonesia peran mahasiswa sangat signifikan atau sangat menentukan dalam menjalankan roda negeri di hari ini dengan visi masa depan. Untuk itu semua, maka dipandang perlu bagi mahasiswa Indonesia mengetahui posisi dan perannya di masyarakat. Sebagai makhluk terpelajar, mahasiswa Indonesia dibutuhkan kontribusinya dalam berbangsa dan bernegara. Agar ketika lulus dari perkuliahan dan menjadi sarjana mampu menjawab persoalan disekitarnya dengan utuh.

Saat ini, beragam persepsi di masyarakat yang sehubungan dengan peran dan posisi mahasiswa Indonesia. Ada diantaranya sebagai kaum intelektual yang bersemayam di menara gading dan ada segelintir pula pemahaman bahwa mahasiswa Indonesia kini hanyalah sekedar anak bawang dalam peri kehidupan berbangsa dan bernegara. Persepsi ini tentunya berjarak dari sejarah dan fakta bahwa sebagai salah satu komponen penentu masa depan bangsa, mahasiswa Indonesia harus memiliki sikap kritis di masyarakat. Bukan untuk saling menyalahkan keadaan, tetapi justru mahasiswa Indonesia harus tampil sebagai jawaban atas masa depan bangsa Indonesia. Kebutuhan ini diimbangi dengan kemampuan mahasiswa untuk saling tepa selira, saling asah, saling asih dan saling asuh bersama dengan masyarakat. Sehingga apapun bentuk pergerakannya merupakan perasan dari manunggalnya mahasiswa dengan rakyat Indonesia. Maka dengan segenap pengetahuan yang dimilikinya mahasiswa Indonesia dapat tampil sebagai penentu bagi masa depan bangsa Indonesia.

Beberapa waktu belakangan santer terdengar istilah agent of change bagi para pelaku perubahan. Istilah ini tak sepenuhnya salah apabila disandingkan dengan peran mahasiswa Indonesia di negeri ini. Tetapi, tentunya sebagai ujung tombak mahasiswa justru memerankan fungsi, peran dan posisi direct to change, dimana adanya kebutuhan sikap kritis juga diimbangi dengan solusi terbaik atas dinamika masyarakat. Agar hal tersebut dapat tercapai, perlu bagi mahasiswa Indonesia untuk selalu memperbaharui pengetahuannya yang membumi dengan negeri Indonesia. Sebagai anak kandung ibu pertiwi, tentunya mahasiswa Indonesia memiliki kewajiban untuk mengemban amanah cita – cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila dan berlandaskan kepada Preambule UUD 1945. Bagi mahasiswa Indonesia tentunya amanah ini tidak mudah untuk di pikul, sebagai negara yang masih seumur jagung, 73 tahun merdeka, masih mencari bentuk kesejatiannya.

Sejatinya bangsa Indonesia adalah sebuah tatanan masyarakat yang unggul dalam bernegara. Sepanjang sejarah kemanusiaannya bangsa Indonesia merupakan tatanan masyarakat yang mampu saling bertoleransi dalam keberagaman masyarakat. Negara Indonesia saat ini memasuki fase dimana tatanan masyarakat mengalami pendewasaan dalam berbangsa dan bernegara, sehingga dapat dimaklumi friksi yang berkembang di masyarakat merupakan ajang pertumbuhan pergaulan masyarakat. Bangsa Indonesia sesungguhnya terbiasa menghadapi perbedaan kultural dan agama, keseharian rakyat Indonesia penuh canda dan mentertawai perbedaan di antara kita. Tetapi mengapa hal tersebut menjadi begitu sensitif untuk dibicarakan dan di bahas, sebab kita sedang menghadapi era inklusivitas teknologi atau keterbukaan informasi. Dengan meluasnya beragam opini di masyarakat dapat dimaklumi terjadi misinterpretasi atas beragam hal, bukan berarti segalanya harus dijelaskan secara detil, tetapi perlu untuk setiap dari kita memiliki kemampuan untuk peka atas proses berbangsa dan bernegara.

Maximum State – Minimum Society.

Kondisi ini perlu diilhami sebagai keadaan bahwa segenap kondisi bermasyarakat diatur oleh negara. Peran masyarakat dalam menentukan arah negara sangat kecil sekali, hal ini menghantarkan kita pada sebuah tatanan masyarakat yang homogen dan keteraturan yang ketat oleh negara. Contoh dari negara seperti ini adalah Korea Utara, China dan beberapa negara penganut sistem Sosialis di Eropa. Peran negara dalam menentukan pola hidup masyarakat sangat tinggi sekali, sehingga hampir sedikit sekali kita dapat menemukan sebuah keadaan dimana rakyat negara – negara tersebut melakukan upaya – upaya untuk menggedor kesadaran pemimpin negaranya untuk mengarahkan perubahan yang signifikan. Secara permukaan, sebuah bangsa dalam keadaan seperti ini memang tampak nyaman dan tenteram. Tetapi kita takkan pernah mendengar sebuah keadaan mengenaskan di negara – negara yang berkiblat kepada maximum state – minimum society. Kondisi bangsa dengan menganut sistem seperti ini cenderung mengambil kebijakan yang sifatnya Top Down, tanpa mengenal aspirasi rakyatnya. Kalaupun aspirasi masyarakat ingin di dengar atau ingin ada sebuah perubahan, negara yang mengatur mekanismenya.

Mahasiswa Indonesia di pandang perlu untuk memahami kondisi seperti ini, sebab ini bukanlah pembahasan tentang Kerajaan atau Kenegaraan, tetapi tentang sebuah tatanan masyarakat yang di atur dalam sebuah keadaan yang ditentukan an sich oleh pemimpinnya. Perlu untuk diketahui oleh mahasiswa Indonesia bahwa sistem seperti ini melahirkan elit – elit kepemimpinan yang sifatnya ekslusif dan tertutup. Sistem demokrasi yang berlangsung di negara – negara seperti ini juga di atur secara ketat oleh negara, sehingga kesan bahwa demokrasi yang hanya sekedar tampilan permukaan begitu terasa. Serta peran serta masyarakat terhadap kebijakan negara sangat kecil sekali, praktis apabila rakyatnya ingin perubahan hanya bisa dilakukan saat pemilu. Kemandirian dan keberdayaan rakyatnya sangat kecil sekali, karena sangat bergantung kepada negaranya, tetapi justru tingkat kesejahteraan negara – negara seperti ini sangat tinggi sekali, sebab hanya negara yang mengatur kebijakan. Meskipun secara umum dinamika pertumbuhan ekonominya relatif stagnan tetapi kemampuan negaranya untuk membentuk negara yang stabil dapat di capai dalam keteraturan semesta tatanan masyarakatnya.

Minimum State – Maximum Society.

Kondisi ini memungkinkan untuk peran masyarakat mengatur perubahan kebijakan negara sangat besar. Dimana masyarakat dan apa yang diinginkannya memiliki peranan yang signifikan terhadap kebijakan – kebijakan negara. Contoh negara – negara seperti ini adalah USA, Jepang dan Korea Selatan, dimana kehendak rakyatnya sangat menentukan arah kebijakan negara. Negara – negara dengan konsep seperti ini memiliki kecenderungan masa depannya di atur oleh korporasi atau perusahaan – perusahaan profesional yang tumbuh di negerinya. Tumbuhnya lembaga – lembaga kemasyarakatan non pemerintahan pun sangat marak dan sangat ditentukan besar kecilnya berdasarkan pengaruhnya kepada pemerintahan. Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami tatanan negara yang seperti ini, dimana pengaruh masyarakat untuk menentukan kebijakan sangat besar sekali dan pemerintah akhirnya memiliki kecenderungan untuk melakukan kebijakan – kebijakan populis hanya untuk menyenangkan lembaga – lembaga ini.

Mahasiswa Indonesia harus memahami kondisi dengan konsep seperti ini agar dapat mengetahui posisi, fungsi dan perannya. Sehingga ketika dihadapkan oleh sebuah kondisi kenegaraan yang pelik, mahasiswa Indonesia mengetahui apa yang harus dilakukan. Disebabkan oleh peran negara yang sedikit dalam peri kehidupan berbangsa membuat masyarakatnya memiliki kemandirian dan keberdayaan yang tinggi atas nasibnya sendiri, tetapi tanpa disadari di atur oleh korporasi dan lembaga non pemerintahan. Organisasi yang berdiri pun terkesan memiliki kemandirian dan keberdayaan yang tinggi, tetapi tidak disadari bahwa bangsanya di atur oleh mekanisme pasar bebas dan uang. Maju mundurnya negara dengan konsep seperti ini sangat bergantung pada pertumbuhan korporasi, besar kecilnya sangat bergantung dari keuntungan yang di raih dan turut mendongkrak pertumbuhan negara. Hal ini diakibatkan oleh begitu tergantungnya negara kepada sepak terjang dan spekulasi yang dilakukan oleh korporasi – korporasi tersebut, sehingga kebijakan – kebijakan negara pun keberpihakannya kepada modal dan aset. Sementara kalaupun ada program – program yang bersifat kesejahteraan sosial hanya dipermukaan saja untuk memperhalus wajah negara tersebut agar terkesan manusiawi dan kemandiriannya sangat bergantung kepada image building di tatanan masyarakat dunia.

Indonesia Dalam Pusaran Mekanisme Pasar Global.

Perlu diketahui oleh segenap mahasiswa Indonesia bahwa negara kita memiliki ketergantungan yang tinggi kepada stabilitas politik, ekonomi dan budaya. Karena entitas kebangsaan yang heterogen, Indonesia sangat tergantung kepada kehendak rakyatnya untuk hidup tenteram dan rukun. Sementara kesenjangan sosial ekonomi di tatanan masyarakat dikesampingkan dengan dalih keberagaman yang mesti saling ewuh pakewuh satu sama lainnya. Hak kesejahteraan sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia masih dalam tahap bertumbuh, sedikit demi sedikit memang sudah banyak perubahan dalam satu dekade ini. Kesamaan kesempatan dan peluang untuk dapat hidup layak di negeri kita sangat minim sekali, dimana usaha kerja yang harus dilakukan oleh kaum yang miskin lebih besar dibandingkan dengan kaum yang berada. Hal ini diakibatkan oleh meluasnya mekanisme ekonomi bebas di seantero negeri, sementara pada golongan yang berkesulitan minim pengetahuan untuk memperbaiki taraf hidupnya.

Beragam persoalan dihadapan negeri kita memang masih dalam proses, agar segenap upaya yang ada tidak berlarut – larut atau bahkan mundur ke belakang maka harus ada terobosan – terobosan yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia. Sebagai bangsa yang menganut cita – cita kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa kita memiliki metode kerja yang di sebut dengan Trisakti : Kedaulatan di Bidang Politik, Kemandirian di Bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Berbudaya. Tentunya untuk mampu memenuhi standar kerja seperti ini memang tidak mudah, apalagi dengan begitu peliknya mekanisme pasar yang berkembang di negeri kita. Kemampuan materialisme dalam menyihir kesadaran generasi penerus bangsa sangat tinggi sekali mempengaruhi kesadaran bermasyarakat kita, sehingga bangsa kita memiliki kecenderungan menggunakan standar kebendaan untuk tatanan pergaulan dalam bermasyarakat. Padahal kebendaan ini sesungguhnya diperuntukkan untuk optimalisasi fungsi kerja yang memudahkan kemanusiaan kita satu sama lainnya di segala bidang.

Perkembangan teknologi selalu saja menjadi kambing hitam dalam pergeseran nalar masyarakat terkait dengan mengikisnya nilai – nilai kemanusiaan. Bangsa kita memasuki fase dimana siapapun yang mampu menguasai sumber – sumber modal keuangan maka menentukan besar kecilnya peran dan fungsi. Hal ini mengakibatkan rakyat Indonesia tercerabut dari akar kebangsaannya yang ramah dan santun kepada semua golongan. Kebutuhan untuk menghidupkan kehidupan di negeri kita sangat tinggi sekali agar masyarakat Indonesia tidak bertumbuh menjadi mutan – mutan yang disorientasi dan sarat kepentingan. Tujuan hidup mengalami dekadensi dimana kepemilikan menjadi pusat konsentrasi visi masyarakat. Tanpa mengindahkan begitu banyak hal, tatanan masyarakat Indonesia menjadi entitas kebangsaan yang gemar bertikai tanpa solusi. Hal ini membuat bangsa Indonesia menjadi sasaran empuk bagi produk – produk asing yang begitu dominan di negeri kita yang diakibatkan oleh tiadanya keberpihakan rakyatnya kepada entitas kebangsaannya.

Kesadaran Berbangsa dan Bernegara Menjadi Budaya Mahasiswa Indonesia.

Bahwa bangsa Indonesia mengalami dekadensi kemanusiaan merupakan hal yang harus mahasiswa Indonesia berikan solusi untuk memperbaiki masa depan negeri kita. Pada prosesnya kepekaan dalam bermasyarakat menentukan sampai sejauh mana kedalaman kohesi sosial bangsa Indonesia sedang terancam atau tidak. Agar nasionalisme tidak hanya menjadi jargon – jargon semata maka mahasiswa Indonesia mesti memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang utuh. Sebab apabila mahasiswa Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi maka perlu untuk memahami bangsa Indonesia adalah bangsa yang mewarisi nilai luhur dari pendiri negerinya. Pengetahuan akan sejarah bangsa Indonesia merdeka perlu menjadi literasi yang umum di mahasiswa Indonesia, agar tidak terjebak dalam kepentingan – kepentingan jangka pendek yang menjerumuskan kepentingan jangka panjang, maka mahasiswa Indonesia perlu menyelaraskan langkahnya dan bersatu.

Hal yang paling perlu diutamakan oleh mahasiswa Indonesia di seluruh Indonesia adalah memangkas sifat inferior antar kampus di seluruh pelosok negeri. Perlu diketahui bahwa siapapun si fulan dan si puan, apabila mengeyam pendidikan sekolah tinggi maka dirinya adalah golongan terpelajar intelektual bangsa Indonesia. Tidak perlu untuk memasang standar atas besar kecilnya peran terhadap sesama mahasiswa Indonesia, dengan memposisikan dirinya setara satu sama lainnya maka mahasiswa Indonesia akan memiliki pemahaman yang utuh atas apa yang harus dilakukan hari ini untuk mahasiswa Indonesia. Menyatukan barisan untuk kemajuan bangsa Indonesia menjadi prioritas bersama bagi mahasiswa Indonesia, agar kesetaraan itu ada maka diperlukan sebuah penguatan literasi pula untuk menentukan arah. Dengan mengetahui peran, fungsi dan posisi sosial kemasyarakatan maka mahasiswa Indonesia mengetahui apa yang harus dilakukan di tengah – tengah masyarakat sebelum menjadi sarjana. Sebagai penyambung lidah rakyat tentunya mahasiswa Indonesia dibutuhkan pergerakannya untuk turut berperanserta mengarahkan perubahan. Hindari diskriminasi antar kampus, buka pikiran satu dengan lainnya, dengan kekuatan ide dan gagasan yang dirumuskan dalam konsep yang terukur mampu membuat mahasiswa Indonesia untuk mengarahkan perubahan.

Kampus adalah laboratorium kehidupan, dimana di tempat inilah mahasiswa Indonesia belajar untuk berperikehidupan dan berperikemanusiaan. Dengan langgam perilaku keseharian yang beradab dan sarat makna tentunya mudah bagi mahasiswa Indonesia untuk menemukan solusi bermasyarakat. Memenangkan kehidupan yang berperikemanusiaan tentunya menjadi cita – cita luhur bagi mahasiswa Indonesia yang mengedepankan kecerdasan intelektual dan emosional. Kemampuan untuk melakukan tindakan – tindakan persuasif dan emansipatif serta partisipatif di antara sesama mahasiswa Indonesia harus dijadikan budaya bersama, sehingga pada proses pembelajarannya mahasiswa Indonesia menjadi utuh pemikiran dan perilaku kesehariannya, jiwanya dan raganya. Budaya persuasif, emansipatif dan partisipatif tentunya perlu ditumbuhkan di dalam keseharian mahasiswa Indonesia. Gerakan nurani rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang unggul dan paripurna, sehingga di setiap rekam jejak mahasiswa Indonesia adalah untuk kepentingan kemaslahatan rakyat Indonesia di semua golongan. Sebagai bagian dari bangsa yang gandrung akan keadilan dan persatuan tentunya perlu kesadaran berbangsa dan bernegara dengan langgam yang selaras di antara sesama mahasiswa Indonesia. Sehingga kita mencapai sebuah peradaban yang gilang gemilang dan membanggakan di masa depan Indonesia. Merdeka!!! LIN

Naskah oleh Parlin Siagian ditulis pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018, untuk dipresentasikan pada Seminar Kebudayaan dengan Tema Budaya Kita, Masa Depan Kita, yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bengkel Seni, Institut STIAMI, Pangkalan Asem, Cempaka Putih, Jakarta pada hari Senin tanggal 3 Desember 2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.