pendidikan

Sedulur, tujuh dasawarsa bangsa Indonesia telah merdeka dan kita rakyat Indonesia patut bersyukur atas anugerah kemerdekaan tersebut serta saling bahu membahu, tanggung renteng bersama untuk mengisi kemerdekaan yang diperoleh dengan pengorbanan jiwa dan raga para pejuang yang mencintai tanah air Indonesia. Sudah empat dasawarsa penulis mengarungi bahtera kemerdekaan Indonesia, tentunya ada pasang surut pada prosesnya dan ada juga suka dukanya. Agar kemerdekaan di negeri kita yang elok ini menjadi sejuk untuk dijalani dalam peri kehidupan sehari – hari, penulis ingin menyampaikan sebuah beberapa pokok pemikiran yang diantaranya adalah pendidikan. Sebab yang utama dari segenap bangsa Indonesia adalah memiliki kemampuan yang utuh dalam menghadapi tantangan jaman, bagai membelah arus besar kehidupan sosial kemasyarakatan kita, dengan segala kerendahan hati dihaturkan terima kasih atas setiap pengalaman hidup yang didapati bersama rakyat Indonesia.

Setidaknya selama empat dasawarsa penulis menjalani kehidupan berbangsa dan mengenyam pendidikan anak, pendidikan dasar dan pendidikan tinggi, ingin turut serta urun rembug dalam proses pendidikan Indonesia. Adapun kesalahan atau penempatan kehendak yang di anggap di luar norma sosial kemasyarakatan dihaturkan mohon maaf yang sebesar – besarnya. Sebab tiada yang lebih penting dari masa depan anak bangsa dalam menempuh pendidikan, maka penulis memberanikan diri untuk sejenak memberikan kontribusi pemikiran di bidang pendidikan. Beberapa hal yang menjadi tolok ukur dari kesuksesan pendidikan adalah tatanan peradaban yang manusiawi dan mengindahkan kemanusiaan kepada sesamanya dan sesama tatanan masyarakat dunia. Oleh karena era keterbukaan informasi yang di kecap oleh anak bangsa Indonesia, maka di pandang perlu untuk memberikan penguatan kepada kemampuan anak bangsa Indonesia untuk bersiteguh kepada cita – cita kemerdekaan Indonesia yang merupakan pengejawantahan dari Pancasila dan Preambule UUD 1945.

Sungguh, penulis telah menyaksikan pemuda – pemuda Indonesia yang brilian dan memiliki kapasitas intelektual yang di atas rata – rata masyarakat dunia. Bersyukur bahwa hingga hari ini kita bisa memastikan bahwa bangsa Indonesia memiliki masa depan yang gilang gemilang di hadapan kita. Yang artinya, artikel ini bukan dimaksudkan untuk menegasikan apa yang telah diperbuat oleh para pemimpin bangsa Indonesia tetapi untuk mengemas sebuah fakta sosial di dalam peri kehidupan pendidikan Indonesia agar kita mencapai tatanan peradaban yang unggul dan mengindahkan kemanusiaan. Hingga sampai pada sebuah realitas kehidupan bahwa segenap rakyat Indonesia merasakan dampak dan manfaat dari pendidikan untuk memperbaiki taraf kehidupannya. Pokok pemikiran yang berkembang saat ini adalah pemanfaatan teknologi modern yang diperuntukan untuk kemudahan dan kemaslahatan semua golongan. Bagi bangsa Indonesia tiada yang lebih penting selain dari kemampuan anak bangsanya untuk mampu menggunakan segala bentuk teknologi yang ada untuk peradaban yang manusiawi dan unggul.

Pada prosesnya memang sedikit ada pro dan kontra tetapi dengan kemampuan bangsa Indonesia untuk memiliki pemikiran yang terbuka dan tepa slira di antara sesama anak bangsa, segalanya menjadi mudah untuk dijalankan dan dilaksanakan. Sebab selain dari beragam kemampuan modern yang dimiliki oleh anak bangsa Indonesia, kita juga mendapati tatanan masyarakat yang terdiri dari orang tua muda yang memiliki anak dalam tahap usia pendidikan. Sehingga acap kali terlihat kita menyaksikan beberapa golongan orang tua mengalami kesulitan dalam mengikuti perkembangan pola pendidikan anak di sekolahnya masing – masing. Ada tiga pokok pemikiran dalam pendidikan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pendidikan yang diantaranya adalah Afeksi, Kognisi dan Konasi. Dimana pada proses pendidikannya memiliki beragam aktivitas pra sekolah, sekolah dan pasca sekolah atau yang di maksud dengan pendidikan di rumah oleh keluarga, pendidikan sekolah formal dan informal, serta pendidikan ketika sudah masuk ke tatanan pergaulan bermasyarakat.

Afeksi Ilmu Pengetahuan Praksis.

Bagi kita orang dewasa tentunya mengetahui maksud dari pendidikan di sekolah dipergunakan untuk beragam hal. Tetapi bagi peserta didik begitu banyak hal yang tidak dapat dipahami yang disebabkan oleh belum mengalami kejadian yang telah diajarkan. Ilmu pengetahuan berangkat dari fakta yang berulang – ulang terjadi yang kemudian dirangkum dalam metode ilmiah dengan tatanan rumus untuk menjadi teori. Fakta – fakta ini menjadi teori ketika di uji coba menunjukan fakta yang sama dengan yang dipelajari, apabila sebuah rumusan fakta tidak bisa diaplikasikan dalam bentuk fakta, maka teori tersebut gugur dengan sendirinya. Proses ilmu pengetahuan inilah yang mesti dipenuhi dalam dunia pendidikan agar setiap teori ketika di uji coba terbukti dan sesuai dengan fakta. Contoh : proses asimilasi air yang disinari panas matahari atau api kemudian menjadi segumulan uap yang kemudian kembali menjadi air dalam bentuk air harus mampu dipenuhi oleh para pendidik agar peserta didik mampu menangkap maksud dari teori yang diberikan dalam pengajaran.

Contoh di atas tidak harus dipenuhi dengan beragam metode uji coba yang rumit, contoh di atas bukan sebuah keharusan dalam pendidikan tetapi kalau kita ingin memiliki pendidikan yang ideal tentunya cara di atas bisa digunakan. Pada intinya adalah setiap hal yang diajarkan di sekolah harus disertakan dalam bentuk skema fakta – teori – fakta. Sehingga segenap yang dipelajari melalui buku – buku pelajaran dapat di cerna untuk mencapai apa yang biasa disebut dengan nalar. Penyerapan pelajaran yang diberikan oleh para pendidik harus dalam bentuk – bentuk imajinatif yang dapat disaksikan secara nyata oleh peserta didik. Memang pada akhirnya untuk mencapai sebuah metode pengajaran dengan skema seperti ini membutuhkan laboratorium yang berbiaya tidak sedikit, tetapi untuk mencapai sebuah tatanan masyarakat yang unggul diperlukan untuk beragam bidang. Sehingga kita akan menemukan sebuah nuansa pendidikan yang menyenangkan penuh dengan kegiatan – kegiatan ilmu pengetahuan. Sebab sesungguhnya kegiatan – kegiatan ilmu pengetahuan adalah merupakan rutinitas yang menyenangkan. Apabila di seluruh negeri kita Indonesia sekolahnya mampu memenuhi standar kualitas laboratorium atau kelas yang memadai untuk ilmu pengetahuan tentunya anak bangsa tidak akan pernah mengetahui apa itu narkoba atau free sex, karena sibuk dengan kegiatan ilmu pengetahuan, yang artinya merdeka dari zat adiktif.

Kognisi Metode Ilmiah yang Sadar Proses.

Metode ilmiah merupakan sebuah proses penalaran untuk menentukan segala sesuatunya secara ilmu pengetahuan. Proses metode ilmiah merupakan salah satu prasyarat untuk mengetahui apakah suatu hal memenuhi kaidah intelektual atau ilmu pengetahuan. Tanpa metode ilmiah maka sebuah pengetahuan hanyalah asumsi belaka tanpa landasan ilmu pengetahuan yang memadai. Sebuah kejadian atau peristiwa atau fenomena hanya akan di sebut sebagai asumsi sementara sampai masuk kepada metode ilmiah untuk merumuskan cara – cara pembuktian kaidah ilmiahnya. Rumusan inilah yang menghantarkan seorang peserta didik kepada sebuah proses identifikasi atau diagnosa atau asumsi awal dari sebuah peristiwa. Contoh : Ketika Isaac Newton duduk di bawah pohon apel menyaksikan beberapa butir buah apel terjatuh ke tanah takkan menjadi sebuah teori gravitasi tanpa adanya metode ilmiah untuk merumuskan dan membuktikan keabsahan teori gravitasi tersebut. Tentunya ketika Newton melakukan rumusan metode ilmiah dan membuktikan teorinya kepada keberadaan beberapa jenis benda lainnya yang terbukti benar dan mendapatkan kalkulasi yang memadai untuk akurasinya, maka teori gravitasi Newton menjadi sebuah ilmu pengetahuan seperti yang telah kita ketahui bersama.

Kesadaran akan sebuah metode ilmiah yang merupakan proses memakan waktu dan biaya tentunya perlu diilhami oleh peserta didik anak bangsa Indonesia. Kesabaran, ketekunan dan ketelitian dibutuhkan para peserta didik dalam proses pendidikannya. Metode ilmiah pun harus disadari pula berlaku dalam ilmu sosial, dimana segala asumsi, fenomena dan peristiwa yang terjadi di masyarakat juga membutuhkan rumusan pada prosesnya menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Tanpa metode ilmiah maka tidak diperkenankan untuk sebuah tatanan masyarakat mengasumsikan beragam maksud dan tujuan. Masyarakat saat ini begitu mudah terjerat dalam fenomena hoax dan berita kebohongan disebabkan oleh tidak menyadari adanya metode ilmiah sebagai kaidah ilmu yang harus dipenuhi sebagai sebuah pengetahuan. Terjeratnya masyarakat dalam turbulensi informasi yang sangat masif membuat tatanan masyarakat tak mampu mencerna mana yang hanya sekedar informasi dan mana yang sudah menjadi fakta. Alas, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita masih dalam tahap proses mencerna nalar mana yang benar dan mana yang salah.

Oleh pendiri bangsa Indonesia, Datuk Ibrahim Sutan Malaka atau yang kita kenal dengan Tan Malaka, fenomena terjeratnya masyarakat dalam turbulensi informasi dan hoax sudah diperingatkan jauh – jauh hari, yang di sebut sebagai fenomena kesilapan. Oleh sebab itu verifikasi atas setiap info perlu untuk dilakukan sebelum mengetahui kebenaran sebuah peristiwa atau kejadian. Verifikasi untuk mendapatkan fakta yang sesungguhnya merupakan sebuah cara metode ilmiah untuk mendapatkan kebenaran. Oleh sebab itu, justru dengan kemudahan untuk saling membagi informasi dan berita dibutuhkan kesadaran atas proses metode ilmiah dalam ilmu pengetahuan. Tidak bisa makhluk intelektual mengungkapkan sebuah peristiwa tanpa dicerna dengan nalar metode ilmiah terlebih dahulu melalui verifikasi kepada sumber – sumber informasi. Sesungguhnya untuk memverifikasi sangat mudah untuk dilakukan, sekarang ada search engine browser atau mesin pencarian informasi, beberapa waktu lalu ada handphone yang sudah berkembang sedemikian canggihnya. Tentunya untuk mencerna dan memverifikasi begitu banyak hal semakin mudah dilakukan di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini terkait dengan peristiwa – peristiwa sosial yang terjadi di tengah – tengah masyarakat.

Konasi Menentukan Kadar Ilmiah Sebuah Pengetahuan.

Kemampuan untuk mencerna, menalar logika dan kesadaran terhadap proses metode ilmiah akan ditentukan oleh sampai sejauh mana pelaksanaannya. Tepat sasaran kah? Atau tepat guna kah? Ilmu pengetahuan tersebut menjadi berfungsi ketika masyarakat applied dalam pelaksanaannya. Apabila hanya sekedar untuk tahu atau sekedar untuk tampilan saja maka sesungguhnya sebuah tatanan masyarakat belum mencapai tahapan peradaban yang unggul. Yang penulis maksud dengan tatanan masyarakat adalah seluruh golongan masyarakat, bukan hanya segolongan masyarakat yang bersifat ekslusif dan elitis. Tetapi seluruh golongan masyarakat memiliki kemampuan untuk mencerna dan menalar sebuah pengetahuan. Tentunya bukan bermaksud untuk mengecilkan peran suatu golongan tetapi justru untuk bersama – sama mencapai kemaslahatan rakyat banyak. Untuk mencapai itu semua maka segenap komponen anak bangsa Indonesia harus bersama – sama terus berperan serta dalam menentukan arah kemajuan bangsa yang sesuai dengan kaidah ilmiah yang ada. Varian ilmu pengetahuan banyak sekali ragamnya dan bisa menjadi pijakan sebagai landasan dalam berpikir dan bertindak, tetapi kebenaran itu tunggal, tidak mendua.

Oleh sebab itu, kemampuan aplikasi ilmu pengetahuan diperlukan oleh segenap peserta didik. Agar menjadi generasi yang utuh dalam menjalani kehidupan sehari – hari, baik di bidang profesional maupun di bidang sosial kemasyarakatan. Kemampuan konasi inilah yang nantinya membentuk kompetensi peserta didik untuk menjadi individu yang capable di bidangnya masing – masing. Sesungguhnya, kemampuan generasi muda sekarang sudah mencukupi standar untuk berkompetisi di tatanan masyarakat dunia. Kompetensinya pun sudah tak perlu diragukan lagi, sehingga apapun yang terkait dengan masa depan bangsa Indonesia kita anak bangsa bisa merasa lega dengan masa depan negeri kita. Sebagai sebuah tatanan masyarakat yang majemuk dan beragam perbedaan terpaut di negeri Indonesia, perlunya anak bangsa Indonesia mengenyam pendidikan yang bersifat dua arah antara pengajar dan peserta didik agar mendapatkan generasi yang gemar akan ilmu pengetahuan. Konasi sebagai sebuah standar kemampuan di bidang pendidikan dibutuhkan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang tepat sasaran dan tepat guna untuk mencapai peradaban yang mengedepankan kemanusiaan pada prosesnya.

Sebuah tatanan masyarakat yang unggul di segenap golongannya membutuhkan kecerdasan yang berangkat dari kemampuan menalar dari apa yang terjadi disekitarnya. Agar beragam hal negatif yang muncul ke permukaan dapat reda sedemikian rupa dari fenomena masyarakat. Tentunya untuk memenuhi prasyarat sebuah teori ilmu pengetahuan harus dapat diaplikasikan, hal tersebut yang membuat individu atau golongan masyarakat dapat membedakan mana fenomena dan mana yang fakta. Sehingga ketika ada oknum – oknum yang melakukan penipuan dalam bertindak dapat teridentifikasi secara cepat. Pemimpin Indonesia saat ini sudah sangat maju dalam menggagas program – program pendidikan, yang sedikit masih tertinggal adalah aplikasinya yang terwujud dalam bentuk infrastruktur pendidikan seperti sekolah yang bernuansa ilmu pengetahuan. Bangsa Indonesia masih terbelenggu dalam struktur kelas per kelas dalam bentuk metode pengajaran dan standar kesuksesan pendidikan juga masih terukur dalam bentuk nilai di laporan sekolah bukan dari sampai sejauh mana pendidikan mampu membentuk karakter seseorang yang terpelajar. Tentunya ini menjadi Pekerjaan Rumah bersama sesama anak bangsa Indonesia, agar segalanya dapat terwujud dengan mudah dan seksama tentunya dibutuhkan peran serta seluruh komponen bangsa Indonesia untuk melihat perlunya revitalisasi sistem pendidikan yang berbasis kelas dan ruang menjadi sistem pendidikan yang berbasis teknologi dan inklusivitas informasi. Merdeka!!! LIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.