Melawan Arus

Romantika, Dinamika dan Dialektika

Sedulur, pada setiap jaman kita diperlihatkan sebuah benang merah perjuangan, atas nasib sebuah bangsa atau segolongan tatanan masyarakat. Di setiap proses dan progres pergumulannya dapat kita perhatikan peristiwa demi peristiwa kemenangan dan kekalahan. Pertarungan kelas sosial masyarakat merupakan momok yang laten di setiap jaman, dimana ada sebuah atau beberapa kompetisi yang terjadi di tatanan pergaulan masyarakat. Ada beberapa diantaranya menjadi sebuah glorifikasi peristiwa yang dibesar – besarkan dan menjadi buah bibir ke seluruh dunia dan menjadi sebuah peristiwa bersejarah dalam perjalanan panjang umat manusia. Di saat – saat kemenangan terjadi kita dapat mempelajari dan melihat sebuah era keemasan bagi sebuah entitas kemasyarakatan dan kebangsaan, dimana para pemimpin yang terlahir di setiap pergumulan menampilkan sebuah kewaskitaan dalam kepemimpinannya serta mampu menghantarkan bangsanya kepada kemakmuran dan kesejahteraan di jaman tertentu. Setiap bangsa di dunia memiliki jaman keemasannya masing – masing dan hal ini menjadi sebuah kemenangan yang di kenang sepanjang jaman terbentuknya entitas kebangsaan untuk membangkitkan sebuah kebanggaan menjadi bagian dari tatanan masyarakat tersebut. Pada prosesnya dapat kita perhatikan bagaimana seorang pemimpin memperlakukan, melawan dan sekaligus menghormati kompetitor atau lawan tandingnya.

Beragam cerita khasanah berdirinya sebuah entitas kebangsaan yang dapat kita pelajari bersama dan dapat menjadi sebuah benang merah sejarah atas perilaku kemanusiaan dari jaman ke jaman serta menjadi sebuah pertanyaan bagi kita semua, adakah kemanusiaan telah mencapai puncak keunggulannya atau sedang dalam progres meningkatkan kualitas atau sedang mengalami dekadensi penurunan kualitas kemanusiaan? Bagi kita makhluk berpikir tentunya beragam pertanyaan dapat muncul di benak kita semua, tetapi yang menjadi pertanyaan mendasar, apakah segalanya tentang menang dan kalah? Apakah manusia tercipta memang untuk menjadi penakluk terhadap sesamanya? Tiadakah yang lebih penting dalam kehidupan selain saling mengalahkan? Atau apakah menjadi dominan di atas bangsa – bangsa di dunia menjadi sangat urgen dan harus terjadi bagi suatu bangsa atas bangsa lainnya? Perlukah penaklukan demi penaklukan yang telah menggoreskan tinta emas sejarah perkembangan masyarakat di dunia yang telah menghantarkan sebuah entitas kebangsaan kepada kejayaannya? Kemudian sampailah kepada pertanyaan yang selanjutnya, apakah tolok ukur sebuah kejayaan? Apakah kemegahan? Kemewahan? Keberlimpahan? Atau sebuah kenikmatan surgawi atas penghambaan sebuah bangsa kalah kepada bangsa pemenang? Apa tolok ukur sebuah kemenangan dan apa yang disebut dengan kekalahan, apakah penjajahan? Penindasan? Tiadakah kehendak bagi kita sebagai sebuah entitas kebangsaan untuk menjadi sebuah tatanan masyarakat yang saling menghormati terhadap sesamanya.

Sebuah refleksi kehidupan tertoreh dalam tinta emas sejarah tentang beragam penaklukan yang terjadi di berbagai kawasan di dunia. Afrika, Eropa, Asia, Amerika dan Australia; hampir di semua kawasan di seluruh dunia memiliki glorifikasi atas sebuah penaklukan, entah itu penjajahan atau kemerdekaan. Apakah yang terjadi merupakan sebuah kebanggaan bagi bangsa tersebut atau justru merupakan sebuah catatan hitam dalam sejarah kemanusiaan dimana ada beragam pembunuhan dan penindasan di seantero jagad yang membuat kita tak mampu untuk membusungkan dada atas rasa malu yang tak berkesudahan bahwa ternyata kita, sesama umat manusia pernah saling berbenturan dengan sesamanya. Bahwa ternyata diantara kita, sesama umat manusia, pernah terjadi saling membunuh, menindas, mengeksploitasi, berkhianat dan saling memperbudak satu sama lainnya. Apakah kemenangan yang di raih membuat sebuah bangsa memiliki rasa bangga atas kemampuannya untuk melakukan penaklukan, adakah diantara kita sesama umat manusia merasa bahwa segala sumber daya hasil penaklukan membuat sebuah entitas kebangsaan menjadi unggul dan berwibawa. Kemudian bagi bangsa yang kalah menjadi kehilangan harga dirinya dan merasa bahwa perbudakan atas dirinya adalah konsekuensi logis dari kekalahan yang dialaminya serta harus memiliki kewajiban untuk menghamba kepada bangsa pemenang yang kemudian harus membungkuk – bungkuk di setiap kehadiran bangsa pemenang. Tentunya sebagai makhluk yang terpelajar kita sebagai sebuah entitas kebangsaan tak dapat mengukur sebuah kejayaan an sich dari kemenangan atau kekalahan, tetapi sebagai bangsa yang unggul, kita segenap entitas kebangsaan harus memiliki sebuah kesadaran bahwa sebuah kemenangan atau kekalahan hanya dapat di ukur atas kemaslahatan yang terjadi di masyarakatnya, sehingga apabila tiada kemaslahatan yang terjadi tetapi yang terjadi adalah keterpurukan kualitas kemanusiaan sebuah bangsa maka tiada gunanya kemenangan yang di raih, kemenangan demi kemenangan yang sejatinya adalah sebuah kejayaan harus berbanding lurus dengan kemaslahatan bagi setiap golongan masyarakat. Sehingga apabila hanya sebagian golongan masyarakat yang sejahtera maka tiada perlunya sebuah entitas kemasyarakatan untuk ikut terjun dalam persaingan dan kompetisi global. Perlu diinsyafi bersama oleh kita semua sebagai sebuah tatanan masyarakat bahwa pergaulan global menjadi penting untuk dijalani bersama ketika setiap entitas kebangsaan didalamnya terdapat kesetaraan dan kebersamaan, sehingga pergumulan yang terjadi adalah saling meninggikan dan saling menghormati sebuah peradaban kemanusiaan yang harus di jaga bersama tanpa harus saling menjatuhkan.

Bagi segenap entitas kebangsaan menjadi penting untuk saling mengindahkan kehidupan dan kemanusiaan, sehingga ketika dihadapkan kepada sebuah episode pelik tentang sisi negatif kehidupan dan kemanusiaan, kita mampu untuk mengatasinya dengan bijaksana dan saling menjaga terhadap sesamanya. Perlu sebuah kesadaran nasional untuk sebuah pencerahan universal dari sebuah entitas kebangsaan yang memiliki ragam kemajemukan. Sehingga untuk dapat mencapai sebuah kualitas kesadaran nasional dan kehendak nasional yang utuh, kita dengan serta merta dapat menjadi bangsa yang seperti dicita-citakan untuk merdeka, yakni menjadi mercusuar bagi bangsa – bangsa di dunia. Untuk terjadinya sebuah tatanan masyarakat yang mengindahkan kehidupan dan meninggikan peradaban kemanusiaan perlu sebuah pergerakan kebudayaan semesta yang melahirkan dan menghadirkan generasi unggul. Ketika kita sebagai sebuah entitas kebangsaan telah mampu melahirkan dan menghadirkan generasi yang unggul, di saat itulah bangsa Indonesia telah mencapai puncak tatanan masyarakat. Untuk diinsyafi secara bersama bagi kita bahwa keunggulan bangsa kita bukanlah kemegahan, bukan kemewahan, melainkan tatanan masyarakat yang saling mengindahkan dan meninggikan peradaban, sehingga dimanapun manusia Indonesia berpijak disitulah dirinya menjadi Man of Nation Value. Dengan menularkan energi positif dimanapun dirinya berada, bangsa Indonesia menjadi intagible asset yang tak ternilai harganya bagi dunia karena memberikan kontribusi terhadap kehidupan dan kemanusiaan yang mendarah daging dalam diri kita masing – masing. Merdeka!!! LIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.