Melawan Arus

Romantika, Dinamika dan Dialektika

Sedulur, investasi di bidang Sumber Daya Manusia merupakan sebuah kerja – kerja nyata yang mampu melahirkan generasi penerus yang mumpuni. Memang, untuk melaksanakannya membutuhkan kerja ekstra dari kebiasaan. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan keteguhan untuk selalu dan senantiasa konsisten dengan tujuan kemanusiaan yang telah direncanakan pada awalnya. Di awal terbentuknya bangsa Indonesia kita telah menetapkan sesuatu yang sederhana namun begitu penting dalam berperikehidupan dan bermasyarakat secara kolektif. Dimana para pendiri bangsa menetapkan sebuah pakta sosial untuk kita jalani bersama sepanjang jaman dan perubahan serta perkembangannya. Kontrak sosial inilah yang menjadikan kita untuk selalu dan senantiasa bersiteguh pada sebuah kesetiaan bersatu sebagai bangsa yang majemuk dan paripurna. Sumpah Pemuda Indonesia yang digadang – gadang oleh para pendiri Republik pada 28 Oktober 1928 memang terasa begitu sederhana tetapi begitu menyejukkan dan bermakna bagi kita bangsa Indonesia untuk menjalaninya di masa kini. Ingin sekali rasanya untuk turut berperanserta dalam di masa – masa pergolakan tersebut, tetapi disadari pula bahwa sesungguhnya para pendiri bangsa Indonesia melakukannya untuk hari ini dan masa depan rakyat Indonesia.

Kita, bangsa Indonesia menyadari betapa merindunya akan masa – masa pergolakan kemerdekaan tersebut untuk kita segenap bangsa Indonesia kembali merasakan gaungnya. Tetapi sebuah kesadaran berbangsa dan bernegara pun menyeruak ke angkasa negeri kita bahwa kita, bangsa Indonesia membutuhkan sebuah kesadaran kolektif untuk melanjutkan cita – cita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sangat disadari bahwa kebutuhan untuk terus mengedepankan elan perjuangan Republik Indonesia untuk keadilan dan kemakmuran membutuhkan peran serta rakyatnya untuk terus selalu dan senantiasa mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Pertama yang perlu disadari oleh kita rakyat Indonesia bahwa yang di bentuk oleh para pendiri Republik adalah kesadaran dan bangkit untuk berbangsa dan bernegara, sehingga patut diinsyafi sebuah kenyataan bahwa masa kini dan masa depan bangsa Indonesia bersifat dinamis dan kolektif. Bukan bermaksud untuk mengobok – obok tatanan masyarakat yang sudah terbentuk dan terbangun selama 74 tahun kemerdekaan, tetapi di pandang perlu untuk menyadari bahwa bangsa Indonesia harus lentur dengan perkembangan jaman dan turut serta melanjutkan apa yang sudah diperjuangkan dengan melaksanakannya dalam konteks kekinian.

Kedua, bahwa sejarah tak boleh dilupakan memang menjadi sebuah fatsun berbangsa dan bernegara kita, begitupula bahwa kerja – kerja kemaslahatan rakyat Indonesia harus terus dilanjutkan dan pertumbuhannya perlu untuk di kawal bersama. Gerakan kebudayaan bangsa Indonesia harus merupakan gerakan yang mencerminkan bangsa Indonesia yang teguh, tangguh dan gigih menghadapi arus jaman. Sehingga apapun tantangan dan hambatan yang dihadapi bangsa Indonesia di masa kini maupun di masa depan harus menjadi tanggung jawab kolektif bersama rakyat Indonesia. Beriringan dengan perjalanan waktu yang kian hari kian cepat, kita perlu untuk bersama – sama untuk menyelaraskan langkah, sehingga derap langkah bangsa Indonesia menuju masa depan yang berkeadilan dan berkemakmuran dapat terwujud tanpa meninggalkan satupun elemen kerakyatannya. Ketiga, visi dan misi Kebangsaan dan Kerakyatan Indonesia harus jelas keberpihakannya, bahwa posisi alat ukur puncak keberhasilan bangsa Indonesia dalam berinvestasi di bidang Sumber Daya Manusia adalah berpihak pada kaum yang paling lemah di seantero nusantara. Sehingga ketika bangsa Indonesia mencapai kemakmurannya berada pada posisi keberhasilan rakyatnya yang paling lemah dan paling nestapa. Apabila kaum yang paling lemah dan paling nestapa ini telah mencapai keberhasilan untuk berperikehidupan, berkepribadian dan berkemanusiaan; saat itulah bangsa Indonesia telah mencapai puncak kesuksesan tatanan masyarakatnya. Bangsa Indonesia yang hebat, adil dan makmur adalah bangsa yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa, Berperikemanusiaan yang Adil dan Beradab, Bersiteguh untuk Bersatu dan Berdaulat pada Republik Indonesia, Melaksanakan sendi – sendi demokrasi yang Merakyat Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Perwakilan yang utuh, kolektif dan komprehensif untuk mencapai Musyawarah Mufakat, serta memastikan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Prinsip berbangsa dan bernegara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila 1 Juni 1945 merupakan sendi – sendi kemasyarakatan bangsa Indonesia yang merupakan warisan kebudayaan yang tak ternilai harganya. Hingga detik ini sampai di masa yang akan datang kita merasakan dampak dan manfaat yang luar biasa di tatanan masyarakat bangsa Indonesia.

Risalah ini disebut dengan terbangunnya istana dari kekalahan karena memang segala yang dicita – citakan oleh para pendiri Republik belum terejawantahkan atau terwujud seutuhnya. Perlunya menginsyafi sebuah kenyataan bahwa begitu pelik kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang mengakibatkan bahwa kita bangsa Indonesia harus mengakui kita sampai sejauh ini masih kalah untuk mewujudkan konstitusi yang kita yakini bersama. Bahwa rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan masih begitu masif di rasa oleh rakyat Indonesia, sehingga untuk mengejar ketertinggalan kita, perlu untuk segenap bangsa Indonesia untuk menggandeng dan merangkul rakyat Indonesia yang masih tertinggal serta bersama – sama secara kolektif untuk menyelaraskan langkah menuju kemaslahatan yang paripurna. Tidak bisa kita mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah mampu mencetak dan membentuk kesejahteraan dengan berdirinya korporasi – korporasi multinasional yang lahir dari bumi pertiwi sementara kasus kelaparan, kasus korupsi, kasus tindak kriminal dan kasus kekerasan rumah tangga serta penipuan bersamaan menggejala di bangsa Indonesia di sebut sebagai keberhasilan atau kesuksesan dan kita telah mencapai puncak peradaban. Dimaklumi bahwa degradasi pemahaman atau dekadensi tatanan masyarakat Indonesia telah terkotak dalam kegiatan – kegiatan dan aktivitas yang bersifat kesenangan, kepuasan dan material yang bersifat sementara, tetapi kesadaran tatanan masyarakat Indonesia mencapai puncak peradabannya adalah ketika keadilan dan kemakmuran tercipta tanpa terkecuali bagi semua golongan.

Keempat, perlu diinsyafi pula secara kolektif bahwa kekalahan demi kekalahan bangsa Indonesia untuk melaksanakan konstitusinya sendiri sesungguhnya merupakan kejadian, fenomena dan peristiwa yang memalukan untuk sebuah entitas kebangsaan sebesar Indonesia. Kegagalan demi kegagalan kita bangsa Indonesia untuk mencapai puncak entitas kebangsaannya menjadi sebuah pendidikan penting bagi tiap generasi yang sadar bahwa bangsanya masih merupakan bangsa yang tertinggal dan terbelakang. Itu sebabnya investasi di bidang Sumber Daya Manusia menjadi krusial penting untuk dilaksanakan di Republik Indonesia. Sebuah bangsa yang masih terpesona dengan harta dan tahta serta kemewahan sesungguhnya merupakan bangsa yang masih tertinggal dan terbelakang, kenapa sebab? Karena bersamaan dengan itu semua korupsi menggejala, menukil lirik lagu Iwan Fals berjudul Bento; maling kelas teri, maling kelas coro itu kantong sampah. Begitupula tindak kriminal dan kekerasan rumah tangga serta beragam peristiwa penipuan yang marak terjadi di bangsa kita merupakan cermin bahwa bangsa Indonesia melupakan kita adalah bangsa yang sadar proses dan berorientasi pada teladan. Kesadaran bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bergaul dengan alam bebas dan memproyeksikan dirinya pada pertumbuhan kepribadian yang teguh, gigih dan tangguh perlu digaungkan ke seantero nusantara. Sehingga ketika kita kalah, terjatuh dan gagal; hal tersebut bersifat sementara dan bukan prinsip hidup kita yang tergadai. Hebatnya bangsa Indonesia disebutkan dalam kekalahan paling getir sekalipun kita mampu untuk bangkit dan membangun peradaban yang megah dan indah, sehingga sebagai sebuah generasi dipandang perlu untuk mewarisi sebuah hidup yang mampu untuk Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Bahwa bangsa Indonesia mampu menjadikan alam nusantaranya sebagai guru terbaik dalam kehidupannya sehari – hari dan mampu menampilkan serta mewujudkan sebuah tatanan berbangsa yang berkarakter pejuang. Sebab kita kalah dan gagal, tetapi kita tetap, selalu dan senantiasa untuk berjuang mencapai puncak peradaban tatanan masyarakat bangsa Indonesia.

Kelima, bangkit dari keputusasaan, kegagalan dan kekalahan bangsa Indonesia untuk mencapai cita – cita kemerdekaannya merupakan sebuah kerja – kerja yang membutuhkan perhatian yang ekstra dari kebiasaan dan akar tunjang persoalan kebangsaan dan kenegaraan di tatanan masyarakat kita yakni kebodohan dan kemiskinan perlu dicerabut hingga ke akar – akarnya. Sehingga generasi penerus bangsa Indonesia mewarisi sebuah kenyataan Gemah Ripah Loh Jenawi yang sesungguhnya tanpa terkecuali bagi setiap golongan. Hal – hal yang bersifat ganjil kita genapi bersama secara kolektif, hal – hal yang di anggap kurang kita tambal dan tambahi bersama secara kolektif, hal – hal yang terjadi secara negatif kita perbaiki dan diselaraskan secara positif bersama secara kolektif. Beragam kerja – kerja kolektif yang dapat dilaksanakan secara tanggung renteng, urun rembug, musyawarah mufakat merupakan wujud dari karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya gemar dan gandrung bergotong – royong. Gandeng dan rangkul yang sedang melangkah menuju kebaikan hidupnya sendirian, jadikan ia sahabat sejatinya kita dalam melakukan kerja – kerja kemasyarakatan. Sebab tiada gunanya segala daya upaya kita seluruh Indonesia apabila masih ada rakyat Indonesia yang sengsara dan nestapa. Rasa lapar hanya dapat digenapi dengan menyantap makanan, rasa dahaga hanya dapat ditunaikan dengan meminum, rasa bahagia hanya dapat terejawantah dengan kebersamaan, berbagi, saling asah, saling asih dan saling asuh. Hidupkan kehidupan demi kemanusiaan kita bangsa Indonesia, jangan biarkan ada satupun rakyat Indonesia, sebab tujuan hidup adalah untuk menyembah Sang Khalik dan terejawantahkan dalam perikemanusiaan dan perikemanusiaan kita bangsa Indonesia yang Adil dan Beradab, untuk tercapainya kita serta merta harus bersatu sebagai entitas kebangsaan, bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan memastikan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Bangsa Indonesia terwujud seutuhnya. Merdeka!!! LIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.