Hingga Waktu Tak Lagi Mengenaliku


3195BBE7-1B09-4E1F-89CC-13694A96F203

Melawan Arus

Romantika, Dinamika dan Dialektika

Sedulur, kemerdekaan Republik Indonesia tidak mudah diraih, ada air mata pada doa yang dipanjatkan dan ada darah yang tertumpah pada perjuangannya. Kemerdekaan ini diraih dengan pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan Republik Indonesia. Pada prosesnya begitu banyak peristiwa yang memilukan untuk menjadi Indonesia seperti yang kita jalani sekarang, oleh karena tidak mudah meraih kemerdekaan, kita generasi penerus Republik Indonesia dipandang perlu untuk menjaga gairah perjuangan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia menggapai masa depan yang gilang gemilang. Tanpa perlu untuk memegahkan keadaan kita, pemuda Indonesia perlu menginsyafi sebuah keadaan bahwa Indonesia masih perlu berbenah untuk mencapai cita – cita kemerdekaan para pendiri Republik. Bukan untuk mengkultuskan para founding fathers Republik Indonesia, tetapi untuk menjaga konsistensi kemerdekaan Republik Indonesia dirasa perlu untuk kita, segenap generasi penerus memiliki kehendak untuk kemajuan bangsa Indonesia. Melalui pergerakan nasional kebudayaan Republik Indonesia, kita, bangsa Indonesia perlu untuk terus melakukan segala bentuk upaya agar kebudayaan bangsa Indonesia lestari dan berkembang menjadi lebih baik.

Sejak Indonesia Merdeka, kebudayaan dipandang sebelah mata dengan menempatkan budaya bangsa di inkubator seremonial adat istiadat yang bersifat kedaerahan, yang merupakan upaya pembonsaian atau pengkerdilan makna kebudayaan bangsa Indonesia. Bukan untuk menyalahkan pihak – pihak yang mengedepankan seremonial adat istiadat kedaerahan, tetapi kita bangsa Indonesia perlu untuk mengilhami sebuah kondisi dimana akar kebudayaan bangsa Indonesia masih ditempatkan di tempurung seremonial belaka. Perlu bagi kita generasi penerus pemuda Indonesia untuk mengedepankan esensi dari kebudayaan bangsa Indonesia untuk selalu dan senantiasa menggerakkan roda kebangsaan Indonesia. Kepribadian dalam Berbudaya yang merupakan salah satu unsur Trisakti yang dicetuskan oleh pendiri Republik perlu dikupas untuk kembali ditempatkan pada porsinya, dimana sikap mental kebangsaan kita menjadi cermin dari pola gerak kebangsaan kita. Untuk mencapai tatanan kebangsaan yang gemah ripah loh jenawi tentunya dibutuhkan elan pergerakan yang merupakan ejawantah dari seruan pendiri Republik bahwa Revolusi Indonesia belum selesai dan generasi kita mengemban tanggung jawab moral dan sejarah untuk selalu senantiasa menjaga gairah revolusi bangsa Indonesia.

Kenapa kebudayaan bangsa menjadi pokok pemikiran yang paling krusial? Sebab dampak penjajahan yang paling signifikan dirasakan oleh kita, generasi penerus bangsa Indonesia adalah kebudayaan Indonesia telah mencapai titik nadir, dimana sikap mental bangsa kita untuk mengisi kemerdekaan masih bersifat sementara, terpisah dari natur bangsa dan dampak dari culture stelsel yang menggejala selama 350 tahun penjajahan masih sangat dirasakan oleh rakyat Indonesia. Tatanan pemerintahan yang masih berpihak kepada pemilik modal, pola pendidikan yang masih bersifat primitif dengan pola pengajaran satu arah, cara kita sesama anak bangsa dalam menyelesaikan persoalan bangsa yang masih mengedepankan conflict interest, perundang – undangan yang masih tumpul ke atas tajam kebawah dan supra struktur Republik Indonesia yang masih mengedepankan kepentingan golongannya sendiri serta mental korupsi, kroni, politik elitis masih menggejala di Republik Indonesia. Hal inilah yang disebut dengan warisan penjajahan dimana mental menak dan priyayi masih menggejala di birokrasi sementara mental ini dibungkus sedemikian rupa dengan corak adat istiadat kedaerahan yang masih feodal. Menggedor kesadaran berbangsa dan bernegara memang tidak mudah, tetapi harus dilakukan untuk mendobrak sekat dan jarak antara negara dan rakyatnya, sehingga kita bangsa Indonesia betul – betul merasakan dampak dari kemerdekaan Republik Indonesia.

Bangsa yang merdeka, berdaulat, bersatu adil dan makmur adalah sebuah tatanan kemasyarakatan dimana negara dan rakyatnya merupakan sebuah entitas kebangsaan yang utuh dan tiada sekat diantaranya. Perilaku yang mengedepankan adab dalam melintasi jaman merupakan sebuah keadaan masyarakat yang telah mencapai puncak peradaban, dimana kita bangsa Indonesia, tidak hanya menjadi bangsa yang tercerahkan tetapi juga menjadi bangsa besar yang mencerahkan bagi tatanan masyarakat dunia. Bangsa yang mengedepankan kesalehan sosial dalam mengelola supra struktur negaranya merupakan bangsa yang cerdas politik, cekatan dalam berekonomi dan juga tangguh dalam berbudaya, sehingga di akhir jaman kita dapat mengatakan kepada dunia bahwa bangsa kita, Indonesia, utuh seluruhnya. Bangsa Indonesia yang telah mencapai puncak peradabannya adalah bangsa yang kukuh, teguh dan berdaya hingga ke desa – desa diseluruh pelosok negeri. Kita tidak sedang membahas segala bentuk kemewahan terjadi hingga ke pelosok negeri, sebab apabila itu terjadi tetapi hanya makin memperkaya pemilik modal maka hal tersebut merupakan fenomena kebangsaan yang sia – sia. Bangsa Indonesia tidak membutuhkan kemegahan hingga ke desa – desa, bangsa Indonesia membutuhkan kearifan lokalnya tetap terjaga dengan tatanan masyarakat yang memiliki kemampuan adaptasi sosial yang unggul.

Integrasi kebangsaan yang tercipta dengan mengedapankan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Bangsa Indonesia inilah yang menjadi pamungkas dari segala bentuk upaya kebangsaan kita. Pernahkah kita menginsyafi sebuah fakta bahwa para pendiri Republik memiliki prioritas terhadap kebangsaannya dibandingkan kenegaraannya? Adakah sebuah kesadaran kolektif yang bahwa Republik Indonesia terbentuk untuk bangsanya? Bukan untuk memperkaya diri dan berpihak kepada pemilik modal. Adakah sebuah kenyataan yang komprehensif di memori kolektif kita bahwa Republik Indonesia diperuntukan bagi bangsa Indonesia? Bukan untuk segelintir elit dan golongan. Fakta bahwa 1% rakyat Indonesia yang terdiri atas 250.000 rekening bank dengan valuasi Rp5.250.000.000.000.000n(Sumber : Bisnis Indonesia, 2018), bukanlah merupakan fenomena kesejahteraan, tetapi merupakan indikasi ketamakan dan kerakusan yang luar biasa mengiris perasaan entitas kebangsaan kita yang terdiri atas 250 Juta penduduk. Begitu mengerikannya fenomena keserakahan yang menggejala di entitas kebangsaan kita menunjukkan bahwa Republik Indonesia butuh pembongkaran kesadaran nasional tentang makna kemakmuran bagi segenap rakyat Indonesia. Kita, perlu menyadari sebuah keadaan bahwa apabila fenomena ini terus berlangsung maka dibutuhkan kerja – kerja revolusi yang membutuhkan peran serta segenap rakyat Indonesia. Agar segala bentuk kerja – kerja kemaslahatan bangsa Indonesia menjadi sebuah kenyataan dan bukan mimpi di siang bolong maka pemuda Indonesia yang merupakan garda terdepan dari pergerakan kebudayaan Indonesia perlu untuk tetap menjaga kesadaran dan kepekaan sosialnya. Sehingga segenap kerja – kerja revolusi dapat menjadi langgam langkah kita bersama.

Bangsa Indonesia membutuhkan gerakan kebudayaan nasional yang memiliki prioritas kepada rakyat yang lemah, terpinggirkan dan marjinal. Untuk dibangunkan dari tidur panjangnya, agar terketuk kesadaran di memori kolektif kita bahwa yang sedang kita upayakan adalah sebuah perlawanan dan gerakan kebudayaan nasional inilah menjadi kunci dari segenap yang kita, bangsa Indonesia upayakan. Pemuda Indonesia diserukan untuk membentuk enclave kebudayaan hingga kepelosok negeri, agar perlawanan yang kita lakukan terjaga dan tidak sia – sia maka kita perlu untuk menjaga langgam langkah bersama dan melakukan pergerakan yang masif dan efektif menuju kemerdekaan bangsa Indonesia 100%. Integrasi pergerakan kebudayaan nasional akan menjadi faktor utama dalam menggelar perlawanan semesta kebudayaan nasional yang akan menggedor memori kolektif kita untuk mencapai puncak peradaban yang sesungguhnya. Mengenai waktu perlawanan akan dikemukakan dirisalah ini dan efektifitas serta efisiensi perjuangan pun akan kita kupas bersama. Diharapkan kesadaran kolektif kita akan terbuka untuk tercapainya bangsa yang sesungguhnya dicita – citakan dan memori kolektif kita akan menjadi utuh dengan bentuk perjuangan dan mengetahui arah pergerakan kebudayaan bangsa Indonesia. Kelak kita akan mewarisi sebuah bangsa yang lengannya terkepal terhadap segala bentuk penindasan dan akan menjadi bahu yang kokoh untuk memikul dan terpikul natur bangsa Indonesia serta menjadi wajah kearifan kebijaksanaan yang utuh seluruh unggul diberbagai bidang. Merdeka!!! LIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.