Istana Tampak Miring


Deklarasi Ciganjur

Deklarasi Ciganjur

Setidaknya semenjak reformasi pada Mei 1998 kami melihat banyak sekali terjadi gonjang ganjing yang terjadi hingga hari ini. Kamipun mencoba untuk memberikan kontribusi terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi di Republik Indonesia.

Dimulai dari tergulingnya Presiden Soeharto yang kemudian digantikan oleh wakilnya Presiden BJ Habibie, hingga Amandemen UUD’45 dimasa-masa kepemimpinan Ketua MPR Amien Rais pada tahun 2002. Dimasa-masa itu kami memandang potensi-potensi konflik yang dibentuk oleh para elit politik di Republik Indonesia, mulai dari konflik horizontal di Aceh hingga konflik Poso menjadi kepedulian kami.

Melihat potensi-potensi konflik disintegrasi bangsa tersebut mahasiswa membentuk Pertemuan Ciganjur yang pada tujuannya adalah untuk membentuk pemerintahan transisi pasca tergulingnya Presiden Soeharto. Dihadiri oleh KH. Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Megawati Soekarnoputri dan diketahui oleh Uskup Belo yang pada saat itu berhalangan hadir karena sakit. Dilapangan, tepatnya di Gedung MPR/DPR, di Universitas Katolik Atmajaya, Universitas Moestopo (Beragama), Universitas Kristen Indonesia (UKI), mahasiswa tetap melakukan perlawanan kepada para elit politik yang mencoba untuk membelah-belah negeri, ibu pertiwi menjadi kubu-kubu yang berlawanan.

Hingga datangnya hari Pemilu 1999 sampai pemilu 2014 terlaksana, kami memandang para elit politik, “Selalu dan Senantiasa” menunggangi rakyat untuk kepentingan politiknya. Potensi-potensi konflik yang dibentuk sedemikian rupa membuat rakyat dengan membabi-buta secara fanatik mendukung pilihan-pilihan politiknya. Kami memandang Republik Indonesia dalam fase “Mass Psychological Anxiety Syndrome”, dimana secara psikologis, massa rakyat disetir sedemikian rupa dengan opini-opini yang mencemaskan dan mengakibatkan “Massive Denial” terhadap Persatuan Indonesia.

Mengapa kami memandang seperti itu? Disebabkan oleh tidak adanya kepedulian terhadap Persatuan Nasional dan Musyawarah untuk mencapai mufakat. Seorang pemuda bernama Sondang Hutagalung dengan masa depan yang cemerlang membakar diri didepan Istana Negara sama sekali tidak menggugah masyarakat untuk adanya perubahan. Fanatisme buta terhadap kepentingan politik yang berlangsung setidaknya lebih dari satu dasawarsa ini, mengakibatkan daya kritis rakyat terhadap pemimpinnya tergerus oleh ketidakpedulian masyarakat.

Hal inilah yang kami sebut dengan kewaspadaan nasional, dimana syndrome diatas tidak boleh lagi terjadi dimasa-masa mendatang. Persatuan Nasional dan Musyawarah untuk mencapai mufakat harus dikedepankan. Keseimbangan konstalasi Nasional mesti dijaga, serta mengesampingkan kepentingan kelompok dan kepentingan golongan untuk kepentingan nasional.

Rahayu Mahardhika,
Istana Tampak Miring.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.